Friday, September 25

Mengenal Virus Campak, Hasil Evolusi Rinderpest yang Menyerang Sapi


Seorang dokter menyuntikkan vaksin campak kepada balita di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026). Pemerintah Kota Bandung menggencarkan layanan vaksinasi campak bagi balita dengan membuka jadwal vaksinasi yang sebelumnya setiap d( ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/sgd)

SEPANJANG 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak di Indonesia, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Sementara itu, bedasarkan data dari Kementerian Kesehatan, hingga minggu ke-7 tahun ini, tercatat ada 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian. Pada periode ini juga terjadi 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan, mengatakan, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak (measles virus). 

Virus Campak

Virus tersebut merupakan virus RNA beruntai tunggal, berselubung, dan beruntai negatif, termasuk dalam genus Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae.

“Sejauh ini, manusia adalah satu-satunya inang alami,” kata Harimat, dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5).

Penelitian menunjukkan, virus campak merupakan hasil evolusi dari Rinderpest yang merupakan virus penyebab penyakit mematikan yang menyerang sapi. Para ahli memperkirakan lompatan spesies (spillover) dari sapi ke manusia terjadi sekitar abad ke-6 SM, bertepatan dengan pertumbuhan populasi dan upaya manusia menjinakkan sapi.

“Adalah Muhammad bin Zakariya al-Razi, ilmuwan Persia, sosok yang pertama kali berhasil membedakan campak dari penyakit ruam lainnya secara ilmiah,” ujarnya.

Harimat menjelaskan, campak (morbilli, measles, gabak, rubeola, atau campak merah) merupakan penyakit demam akut dan berpotensi fatal, yang tidak hanya menyerang anak-anak tetapi juga orang dewasa. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit virus yang paling menular.

“Begitu menularnya sehingga digambarkan seseorang yang tidak pernah diimunisasi dapat terinfeksi hanya dengan memasuki ruangan tempat seseorang yang terinfeksi baru saja berada,” tambahnya.

Penyebaran penyakit terjadi melalui kontak dengan cairan hidung atau tenggorokan penderita yang terinfeksi, baik dikarenakan pernafasan, batuk, atau bersin. Virus tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan yang terinfeksi hingga dua jam.

Diperkirakan, 90% orang yang terpapar yang tidak diimunisasi akan terkena penyakit ini. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menyebabkan hingga 18 infeksi sekunder.

Adapun masa inkubasi campak biasanya berlangsung 10-14 hari. Manifestasi awal meliputi demam disertai gejala batuk, pilek, dan konjungtivitis. Gejala lain yang muncul antara lain diare, muntah, sakit perut, sakit tenggorokan, malaise, limfadenopati ringan, sakit kepala, dan iridosiklitis yang menyebabkan fotofobia. Demam biasanya tinggi pada hari ke-4. 

Beberapa hari kemudian ruam morbiliform berkembang, mulai dari wajah, leher bagian atas, belakang telinga dan secara bertahap menyebar ke bawah.

Penyakit ini dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi mulai empat hari sebelum munculnya ruam hingga empat hari setelah ruam muncul, ketika virus campak di saluran pernapasan berada pada kadar paling tinggi. 

“Ruam berlangsung selama 3 hingga 7 hari dan memudar dengan pola arah yang sama seperti saat muncul,” terang Harimat.

Awalnya terlihat sebagai makula merah terpisah yang kemudian menyatu. Pada kasus campak tanpa komplikasi, pasien membaik pada hari ketiga setelah timbulnya ruam, dan sembuh sekitar 7–10 hari setelah timbulnya penyakit.

“Sebelum timbulnya ruam, yakni sekitar 2 hari sebelum timbulnya ruam, dapat terlihat di mukosa mulut adanya bintik koplik (koplik spot) yang berupa lesi berbentuk papula kecil berwarna biru keputihan berukuran 2 hingga 3 mm yang menonjol di atas dasar merah. Bintik koplik ini merupakan tanda khas campak,” jelasnya.

Jumlah bintik koplik dapat bertambah selama sekitar 4 hari. Kemunculan bintik koplik memberikan kesempatan untuk menegakkan diagnosis bahkan sebelum munculnya ruam. 

“Prevalensinya pada pasien campak berkisar antara 60 dan 70 persen. Keberadaan bintik koplik membedakan campak dari ruam serupa seperti roseola dan rubella,” pungkasnya. (H-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *