Friday, September 25

Rupiah Menguat ke Rp17.903 Didorong Meredanya Ketegangan Dagang AS-Tiongkok


Ilustrasi(Antara)

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan akhir pekan, Jumat (25/9). Pergerakan positif ini terjadi di tengah dinamika global, mulai dari perpanjangan gencatan senjata ekonomi antara Washington dan Beijing hingga sinyal suku bunga dari bank sentral AS, The Fed.

Berdasarkan data pasar pada Jumat, mata uang Garuda bertambah 13 poin atau 0,07% ke level Rp17.903 per dolar AS. Posisi ini naik dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.916 per dolar AS. Meski demikian, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat bergerak melemah ke posisi Rp17.917 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.898 per dolar AS.

Faktor Pendorong: Hubungan AS-Tiongkok Membaik

Analis pasar uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menjelaskan bahwa apresiasi rupiah sangat dipengaruhi oleh membaiknya tensi geopolitik dan ekonomi antara AS dan Tiongkok.

“Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Melalui kantor berita Anadolu, Bessent mengungkapkan bahwa peredaan ketegangan ekonomi yang mulanya dijadwalkan selesai pada 10 November tersebut resmi diperpanjang hingga awal tahun depan. Di samping itu, Menkeu AS turut mengisyaratkan potensi pengumuman lanjutan dari delegasi Tiongkok, seperti komitmen pembelian produk pertanian AS serta peluang kerja sama di sektor jasa keuangan.

Kesepakatan penting ini dicapai usai Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, He Lifeng, menggelar pertemuan darurat di Washington pada hari yang sama.

Sentimen Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Selain poros Washington-Beijing, pasar turut memantau perkembangan hubungan antara AS dan Iran yang mulai menjajaki jalur penyelesaian konflik secara bertahap. Langkah ini mencakup opsi pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran serta pencabutan blokade ekonomi dari pihak Washington.

Dari sektor moneter, bayang-bayang pengetatan lanjutan oleh The Fed turut memengaruhi pasar keuangan global. Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menegaskan pentingnya membawa kembali tingkat inflasi ke target optimal tepat waktu, sehingga potensi kenaikan suku bunga sebelum pergantian tahun dinilai wajar.

Senada dengan hal tersebut, Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, memberikan peringatan tegas semakin lama inflasi tetap tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target.

Tekanan eksternal juga diperkuat oleh rilis data makroekonomi AS yang solid. Purchasing Managers’ Index (PMI) Komposit S&P Global AS melesat ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir di angka 58,4 sepanjang September. Di sisi ketenagakerjaan, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197 ribu per pekan yang berakhir 19 September, melampaui ekspektasi pasar yang mematok angka di 201 ribu. (Ant/E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *