
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Gowa menegaskan tidak akan berdiam diri menanti dampak El Nino menghantam lahan pertanian. Dalam sebuah dialog strategis yang digelar di Baruga Tinggimae, Rumah Jabatan Bupati Gowa, Pemkab mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menyebut kondisi saat ini sebagai fase waspada dini. Meski curah hujan di beberapa wilayah dinilai masih cukup baik, ia menekankan bahwa potensi risiko penurunan produktivitas di depan mata tidak bisa diabaikan.
“Kami tidak menunggu dampaknya datang. Ini fase waspada dini. Strategi kami adalah percepatan tanam, penggunaan benih tahan kekeringan, dan memaksimalkan pompanisasi dari sumber air yang ada. Target kami bukan sekadar bertahan, tetapi memastikan target produksi tetap realistis dan tercapai,” tegas Husniah
Langkah ini menempatkan adaptasi cepat sebagai jantung kebijakan. Tujuannya jelas, adar Gowa sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan tidak boleh kehilangan surplus produksinya.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Gowa, Zubair Usman, menambahkan bahwa seluruh program pertanian, baik dari pusat maupun daerah, dijalankan secara optimal.
“Di tengah tantangan El Nino, kami tetap fokus. Program terus berjalan untuk memenuhi target dan menjaga surplus pangan, agar Gowa terus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Pada 2025 lalu, produksi beras di Kabupaten Gowa sebanyak 263.534 ton gabah kering giling (GKG), yang menjadi penopang 18,15 persen surplus beras di Sulsel.
Mustari, petani asal Kecamatan Bajeng, mengonfirmasi kesiapan para petani. Di wilayahnya, musim tanam masih bisa berlangsung tiga kali setahun. Kuncinya, menurut dia, adalah kecepatan informasi dan infrastruktur air darurat.
“Di Bajeng masih aman. Kami sudah siapkan pompanisasi, setiap sawah punya sumur untuk jaga-jaga saat El Nino. Yang penting, informasi soal musim dan ancaman itu sampai ke kami, jadi kami bisa langsung bergerak,” ungkap Mustari. (H-2)
