Tuesday, September 22

Parade Kemenangan Rusia Bayang-Bayang Krisis dan Tantangan Terberat Putin


Vladimir Putin.(Al Jazeera)

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menghadapi salah satu momen paling krusial dalam kepemimpinannya saat ia bersiap memimpin parade Hari Kemenangan (Victory Day) pada Sabtu (9/5). Untuk pertama kali, peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman ini dirayakan di tengah situasi perang di Ukraina yang durasinya kini melampaui lama Perang Patriotik Raya (1941-1945).

Namun, alih-alih merayakan kemenangan, parade tahun ini justru menjadi simbol kerentanan. Serangan drone Ukraina yang terus-menerus hingga ke jantung ibu kota memaksa penyelenggara untuk menurunkan skala acara secara drastis.

Tidak ada tampilan kendaraan lapis baja maupun barisan kadet militer seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, layanan internet dan telepon seluler di Moskow dijadwalkan akan mengalami gangguan selama beberapa hari demi alasan keamanan.

Keresahan yang Meluas di Dalam Negeri

Di balik tembok Kremlin, rasa ketidakpuasan mulai merambat ke berbagai lapisan masyarakat Rusia. Dengan jumlah korban jiwa yang diperkirakan melampaui satu juta orang, ekonomi yang tertekan, dan serangan udara yang menjadi rutinitas harian, stabilitas kekuasaan Putin kini menghadapi tantangan yang lebih laten dibandingkan upaya kudeta Yevgeny Prigozhin pada 2023.

Layanan keamanan Rusia merespons situasi ini dengan pembatasan drastis, termasuk memblokir aktivitas daring yang menyerupai sistem Great Firewall Tiongkok. Namun, langkah ini justru memicu kritik dari kalangan loyalis nasionalis yang mulai membicarakan kemungkinan ada revolusi atau perpecahan di internal elite keamanan.

Titik Balik Psikologis

Secara psikologis, titik balik terjadi pada Januari lalu ketika durasi operasi militer khusus resmi melewati durasi perang melawan Nazi. Narasi Kremlin yang ingin mendenazifikasi Ukraina kini berbalik menjadi beban moral.

“Setiap hari yang berlalu menambah sentimen bahwa kita tidak layak atas memori kakek-nenek kita. Putin menciptakan kultus ini dan sekarang hal itu berbalik menyerangnya,” ujar Abbas Gallyamov, mantan penulis pidato Putin.

Kritik juga datang dari figur publik seperti Victoria Bonya, seorang influencer populer, yang secara terbuka menyatakan bahwa Putin tidak mengetahui kondisi riil di lapangan karena laporan palsu dari para birokrat. Unggahannya yang mendapatkan jutaan tanda suka mencerminkan kejenuhan publik terhadap ketakutan yang selama ini menyelimuti negara tersebut.

Dilema Parade 9 Mei

Bagi Putin, membatalkan parade bukanlah pilihan karena makna semireligius dari tanggal 9 Mei bagi identitas Rusia. Namun, melaksanakannya di tengah ancaman serangan udara Ukraina yang semakin efisien ialah risiko besar. Sekitar 70% populasi Rusia kini berada dalam jangkauan serangan Kyiv yang secara perlahan meruntuhkan citra Putin sebagai pelindung bangsa.

Meskipun para analis menilai revolusi tidak akan terjadi dalam waktu dekat, perubahan suasana hati masyarakat Rusia saat ini sangat kontras dibandingkan akhir tahun lalu. Harapan akan perdamaian cepat melalui tekanan internasional kini memudar, digantikan oleh ketidakpastian yang mendalam.

Mantan Duta Besar AS untuk Moskow, John Sullivan, memberikan catatan penting, “Di Rusia, segala sesuatu tidak terjadi dengan cepat, tetapi ketika itu terjadi, semua akan berlangsung sangat cepat.” (WSJ/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *