Tuesday, September 22

Aktivis Global Sumud Tuduh Israel Lakukan Pelecehan Seksual dan Penyiksaan


Ilustrasi(Dok AFP)

GLOBAL Sumud Flotilla pada Kamis (7/5) menuduh Israel melakukan kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan perlakuan tidak manusiawi terhadap para aktivis yang ditahan setelah misi bantuan menuju Gaza dicegat di perairan internasional.

Dalam pernyataannya, armada bantuan tersebut menyebut kesaksian para aktivis yang telah dibebaskan menunjukkan adanya pola kekerasan fisik dan seksual yang parah serta perlakuan merendahkan martabat secara sistematis selama masa penahanan setelah kapal dicegat di lepas pantai Kreta pada 29 April.

Kelompok itu menyatakan sedikitnya empat aktivis mengalami pelecehan seksual saat berada dalam tahanan Israel. Dua di antaranya dilaporkan mengalami tindakan pelecehan serius berupa sentuhan pada bagian pribadi tubuh mereka.

Beberapa peserta lain juga mengaku mengalami serangan berulang pada bagian sensitif tubuh disertai pelecehan verbal dan perlakuan yang disebut merendahkan martabat.

Menurut pernyataan tersebut, para tahanan juga mengalami berbagai bentuk perampasan yang disengaja, termasuk paparan suhu dingin ekstrem, penyitaan pakaian hangat, serta akses terbatas terhadap makanan, air, dan tempat tidur. 

Kondisi itu disebut menyebabkan sejumlah tahanan mengalami hipotermia maupun hipertermia.

Global Sumud Flotilla menilai perlakuan tersebut merupakan bagian dari pola yang lebih luas terhadap mereka yang menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina.

“Pelanggaran tersebut mencerminkan pola perlakuan yang lebih luas yang bertujuan untuk merendahkan martabat mereka yang berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Palestina,” demikian isi pernyataan kelompok tersebut dilansir Anadolu, Jumat (8/5).

Armada bantuan itu juga menyampaikan kekhawatiran atas nasib dua aktivis, Thiago Avila dan Saif Abu Keshek, yang hingga kini dilaporkan masih ditahan di Israel dan sedang melakukan mogok makan.

Misi Global Sumud Flotilla Musim Semi 2026 bertujuan menembus blokade Israel terhadap Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di wilayah tersebut.

Namun, pada akhir 29 April, pasukan Israel mencegat konvoi kapal di lepas pantai Kreta. Intervensi dilakukan di perairan internasional, sekitar 600 mil laut dari Gaza dan hanya beberapa mil dari wilayah perairan Yunani.

Sebanyak 177 aktivis ditahan dalam operasi tersebut dan dilaporkan mengalami berbagai bentuk perlakuan buruk selama penahanan.

Laporan lain menyebut Avila dan Abu Keshek mengalami penganiayaan fisik berat serta ancaman pembunuhan saat menjalani interogasi setelah dibawa secara paksa ke Israel.

Israel telah memberlakukan blokade terhadap Gaza sejak 2007. Blokade tersebut membuat sekitar 2,4 juta penduduk wilayah itu menghadapi krisis kemanusiaan dan ancaman kelaparan.

Sejak Oktober 2023, militer Israel juga melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza yang disebut telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, melukai lebih dari 172.000 lainnya, serta menyebabkan kehancuran luas di wilayah tersebut. (E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *