Tuesday, September 22

FICare Jadi Pendekatan Baru dalam Perawatan Bayi Prematur


dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, atau yang lebih dikenal dengan dr Tiwi(Dok RSIA Bunda Jakarta )

PERAWATAN bayi prematur di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) kini tidak lagi hanya berfokus pada upaya penyelamatan nyawa. Sejumlah rumah sakit mulai mengembangkan pendekatan yang melibatkan orangtua secara aktif, memperkuat pemberian air susu ibu (ASI), hingga memperhatikan aspek tumbuh kembang bayi sejak awal kehidupan. Pendekatan tersebut diterapkan di RSIA Bunda Jakarta melalui konsep Family Integrated Care (FICare), yakni sistem perawatan NICU yang menempatkan keluarga sebagai bagian dari proses perawatan bayi.

Orangtua tidak lagi hanya menjadi pengunjung, tetapi dilibatkan sejak dini dalam mendampingi bayi prematur selama masa perawatan intensif. Penerapan FICare di RSIA Bunda diinisiasi oleh I Gusti Ayu Nyoman Partiwi. Dokter spesialis anak ini memaparkan, keterlibatan orangtua memiliki peran besar terhadap kondisi fisik maupun emosional bayi prematur yang organ tubuhnya belum berkembang sempurna. 

“Orangtua itu fungsinya sama pentingnya dengan alat-alat di NICU. Sentuhan, pelukan, suara napas, dan suara jantung ibu itu adalah stimulasi yang luar biasa untuk bayi,” ujar dokter yang akrab disapa Tiwi ini pada seminar bertema Optimalisasi Tumbuh Kembang Bayi Prematur Melalui Intervensi Dini, di RSU Bunda Jakarta, Sabtu (9/5).

Ia menjelaskan, bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu masih membutuhkan lingkungan yang menyerupai kondisi di dalam rahim. Karena itu, sentuhan dan kehadiran orangtua dinilai membantu perkembangan sensorik sekaligus memberikan rasa aman bagi bayi.

Di RSIA Bunda, lanjutnya, orangtua dilibatkan sejak awal perawatan. Mereka diberikan edukasi, pendampingan, hingga dilatih melakukan perawatan dasar seperti menyentuh bayi, mengganti popok, mengukur suhu tubuh, hingga menjalankan metode kangaroo mother care (KMC).  

Metode KMC dilakukan dengan menempatkan bayi di dada ibu atau ayah agar bayi mendapatkan kehangatan, suara detak jantung, dan kontak langsung dengan orangtuanya. Pendekatan tersebut dinilai membantu stabilitas fisiologis bayi sekaligus mendukung perkembangan otak dan emosionalnya.

“Ikubator terbaik sebenarnya adalah dada ibunya,” kata Tiwi.

Selain keterlibatan keluarga, pemberian ASI juga menjadi salah satu fokus utama perawatan bayi prematur di NICU.

Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi maupun gangguan pencernaan sehingga membutuhkan perlindungan tambahan dari ASI ibu kandung. Di RSIA Bunda, hampir seluruh bayi kecil di NICU mereka dapat memperoleh ASI langsung dari ibu kandung melalui sistem pendampingan yang terintegrasi. Pendekatan tersebut juga membuat kebutuhan terhadap ASI donor menjadi sangat rendah.  

Tiwi menambahkan, ASI pada ibu yang melahirkan prematur secara alami memiliki komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi, baik dari sisi nutrisi maupun perlindungan imunologis. 

“Walaupun bayi belum bisa mengisap, ASI tetap harus diupayakan. Setetes pun sangat berarti,” ujarnya.

Ia mengatakan, produksi ASI cenderung lebih optimal ketika ibu berada dekat dengan bayi. Karena itu, ibu didorong memompa ASI sambil menyentuh atau berada di dekat bayi agar ikatan emosional tetap terbangun. Pendekatan tersebut juga didukung dengan pengendalian infeksi yang ketat di ruang NICU.

Selain layanan NICU, RSIA Bunda juga mengembangkan Neuro Development Center untuk memantau tumbuh kembang bayi dan anak setelah melewati masa perawatan intensif. Layanan tersebut mengintegrasikan pemantauan perkembangan anak sejak masa kehamilan hingga pascakelahiran melalui pendekatan multidisiplin.  

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak konsultan neonatologi RSIA Bunda, Adhi Teguh Perma Iskandar, menjelaskan NICU tidak hanya bertujuan membantu bayi bertahan hidup, tetapi juga mempersiapkan kualitas hidup jangka panjang anak.

“NICU bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya,” ujar dr. Adhi yang juga Ketua UKK Neonatologi Indonesia.

Adhi menyebut pendekatan komprehensif yang dilakukan RSIA Bunda tersebut memungkinkan penanganan bayi dengan kondisi sangat rentan, termasuk bayi dengan berat lahir di bawah 1.000 gram hingga sekitar 700 gram.

Sdhi menegaskan, keberhasilan perawatan tidak hanya diukur dari kemampuan bayi bertahan hidup, melainkan juga dari kualitas tumbuh kembangnya setelah keluar dari NICU.

“Jadi, perawatan bayi di NICU bukan hanya soal alat canggih, tapi juga soal sentuhan kemanusiaan dan keterlibatan keluarga,” tegas Adhi. (E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *