Wednesday, September 23

Laga Klasik Persija vs Persib Sulap Samarinda Jadi Lautan Emosi dan Nyanyian


Stadion Segiri, Samarinda(Antara)

PADA Minggu malam (10/5) menjadi malam yang sulit dilupakan bagi pecinta sepak bola di Samarinda. Ribuan pasang mata tertuju ke Stadion Segiri saat duel klasik Persib Bandung melawan Persija Jakarta digelar dalam atmosfer penuh gairah dan emosi.

Gemuruh nyanyian suporter menggema sejak sore. Lautan manusia memenuhi tribun dengan atribut berwarna oranye, biru, hingga merah. Drum ditabuh tanpa henti, yel-yel bersahutan, sementara sorotan lampu stadion membuat Segiri seolah kembali ke masa kejayaan sepak bola Indonesia.

Bagi warga Samarinda dan Pusamania, laga tersebut bukan sekadar pertandingan biasa. Kehadiran Persib dan Persija seperti membawa kembali denyut besar sepak bola nasional ke Kota Tepian.

Padahal sebelumnya, pertandingan direncanakan berlangsung di Jakarta. Namun karena kendala perizinan keamanan, laga akhirnya dipindahkan ke Samarinda berdasarkan rekomendasi Mabes Polri dan hasil koordinasi bersama operator kompetisi. Stadion Segiri pun dipilih sebagai venue netral agar pertandingan tetap bisa digelar di hadapan penonton.

Keputusan itu ternyata disambut antusias luar biasa oleh masyarakat Samarinda. Tiket pertandingan diburu, warung kopi dipenuhi penonton, dan jalanan menuju stadion dipadati kendaraan sejak beberapa jam sebelum kick off.

“Sejauh ini kami rindu gemuruh suporter yang menggema. Sebagai Pusamania yang haus bola, kami selalu bernyanyi untuk Borneo FC. Namun kali ini, laga klasik Persib-Persija membuat Kota Samarinda seperti kota yang gila bola,” kata Gabriel Gunawan.

Sepanjang pertandingan berlangsung, atmosfer Stadion Segiri benar-benar membara. Saat Persija mencetak gol lebih dulu, tribun bergemuruh oleh teriakan pendukung Macan Kemayoran. Namun ketika Persib bangkit dan membalikkan keadaan menjadi 2-1, stadion berubah menjadi lautan emosi.

Sebagian penonton berdiri di atas kursi tribun, melompat sambil mengangkat syal ke udara. Nyanyian anthem Persib dan Persija terdengar silih berganti memenuhi malam Samarinda. Bahkan saat laga sempat dihentikan karena azan Magrib berkumandang, suasana stadion mendadak hening sebelum kembali meledak ketika pertandingan dilanjutkan.

Tak hanya di stadion, atmosfer laga juga terasa di seluruh penjuru kota. Warga memadati kafe dan warung kopi untuk menggelar nonton bareng. Media sosial pun dipenuhi unggahan video, sorakan penonton, hingga tulisan “King Persib” yang ramai muncul di siaran langsung pertandingan.

Di tengah panasnya rivalitas, pesan damai tetap digaungkan. Andi Harun mengingatkan seluruh suporter untuk menjaga ketertiban dan menunjukkan wajah sepak bola Indonesia yang dewasa. “Tetap jaga kondusivitas dan jadilah suporter yang baik agar sepak bola kita semakin maju,” katanya.

Malam itu, Segiri bukan hanya menjadi tempat pertandingan sepak bola. Stadion tua kebanggaan Samarinda itu berubah menjadi panggung besar penuh emosi, nostalgia, dan kerinduan akan atmosfer sepak bola yang sesungguhnya. (P-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *