
KEBIASAAN makan di luar rumah kini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan mendesak bagi masyarakat modern. Sebuah studi global berskala besar yang dipresentasikan pada European Congress on Obesity 2026 (ECO 2026) di Istanbul, Turki, mengungkap data mengejutkan mengenai pergeseran pola makan masyarakat dunia.
Penelitian yang melibatkan 280.265 orang dewasa dari 65 negara ini menunjukkan bahwa sekitar 47,4% orang dewasa mengonsumsi setidaknya satu kali makanan yang disiapkan di luar rumah setiap minggunya. Artinya, hampir separuh penduduk dunia kini bergantung pada makanan dari kedai pinggir jalan hingga jaringan restoran besar.
Kesenjangan Ekonomi dan Perubahan Kebiasaan
Tingkat pendapatan menjadi faktor utama yang menentukan seberapa sering seseorang makan di luar. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, lebih dari 83% orang dewasa dilaporkan makan di luar dalam satu minggu terakhir, dengan rata-rata 3,66 porsi makanan. Berbanding terbalik, di negara berpenghasilan rendah, angka tersebut turun menjadi sekitar 30% dengan frekuensi satu kali seminggu.
“Meskipun makan di luar tampak menjadi simbol kemakmuran di negara-negara berpenghasilan rendah, hal tersebut telah menjadi norma di negara-negara berpenghasilan tinggi,” ungkap Mubarak Sulola dari Universitas Heidelberg, salah satu peneliti dalam studi tersebut.
Data juga menunjukkan pria, usia dewasa muda, pekerja, dan mereka yang belum menikah cenderung lebih sering mengonsumsi makanan di luar rumah.
Kaitan Erat dengan Obesitas
Salah satu temuan paling krusial dalam studi ini adalah hubungan kuat antara makan di luar dengan berat badan berlebih. Di negara-negara berkembang, kebiasaan ini berkorelasi dengan kondisi kelebihan berat badan (overweight), sementara di negara maju, tren ini berkaitan erat dengan obesitas.
Penyebab utamanya adalah lingkungan pangan yang kurang sehat. Makanan yang disiapkan di luar rumah cenderung mengandung kalori, lemak, dan garam yang lebih tinggi, dengan porsi yang lebih besar serta ketergantungan pada bahan-bahan olahan.
“Temuan kami menunjukkan bahwa makan di luar secara konsisten dikaitkan dengan obesitas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah-bawah, kemungkinan besar karena transisi nutrisi yang sedang berlangsung di negara-negara tersebut,” tambah Sulola.
Perlunya Kebijakan Publik yang Tegas
Mengingat tren makan di luar yang diprediksi akan terus meningkat seiring berkembangnya kota-kota besar, para ahli menekankan perlunya strategi kesehatan yang lebih adaptif.
Penulis senior studi tersebut, Profesor Sebastian Vollmer dari Universitas Göttingen, menegaskan bahwa intervensi kesehatan masyarakat harus mulai menyasar sektor pangan di luar rumah sebagai titik tumpu pencegahan obesitas global.
“Dalam lingkungan pangan saat ini, merupakan tantangan bagi orang-orang untuk tidak makan berlebihan dan memilih makanan yang bergizi serta sehat,” ujar Vollmer.
Para peneliti menyarankan kebijakan seperti pelabelan menu yang jelas, pengendalian ukuran porsi, serta standar bahan baku yang lebih baik bagi vendor makanan dan restoran guna membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih sehat di masa depan. (Earth/Z-2)
