Tuesday, September 22

Krisis Pasir Global Proyek Reklamasi Maladewa Picu Kerusakan Ekosistem Permanen


Ilustrasi.(Magnific)

MALE, ibu kota Maladewa, kini berada di titik nadir antara ledakan populasi dan ancaman nyata kenaikan permukaan air laut. Sebagai salah satu kota terpadat di dunia, pemerintah mencoba solusi radikal yaitu reklamasi lahan. Namun, laporan terbaru dari PBB (UNEP) mengungkap bahwa solusi ini justru memicu bencana ekologis yang tak terelakkan.

Dunia saat ini mengonsumsi pasir sebanyak 50 miliar ton per tahun untuk kebutuhan industri dan pembangunan perkotaan. Angka ini melampaui kecepatan alam dalam memulihkan cadangannya. Pasir, yang sering disebut sebagai pahlawan pembangunan yang tak diakui, sebenarnya merupakan garis pertahanan pertama manusia terhadap badai dan intrusi air laut.

Proyek Gulhifalhu: Ambisi yang Berujung Kerusakan

Pada tahun 2019, pemerintah Maladewa memulai proyek reklamasi lahan seluas 192 hektare di laguna Pulau Gulhifalhu. Proyek ini membutuhkan 24,5 juta meter kubik pasir yang dikeruk dari dasar laut Atol Malé Utara. Meski penilaian lingkungan enam bulan kemudian menyatakan kerusakan yang terjadi bersifat irreversible (tidak dapat dipulihkan), proyek tetap berjalan karena kontrak telah ditandatangani.

Dampak Ekologis Proyek Gulhifalhu:

  • Hancurnya 200 hektare terumbu karang dan habitat laguna.
  • Kerusakan pada Kawasan Konservasi Laut (MPA).
  • Hilangnya habitat kritis bagi penyu, burung, dan spesies ikan yang menopang sektor pariwisata serta perikanan.

Dampak Global: Dari Filipina hingga Indonesia

Krisis ekstraksi pasir tidak hanya terjadi di Maladewa. Laporan UNEP menyoroti dampak serupa di negara lain:

  • Filipina: Pengerukan 155 juta meter kubik pasir untuk proyek bandara menghancurkan komunitas nelayan di Teluk Manila karena ikan tidak lagi kembali ke habitat yang rusak.
  • Indonesia: Di Sulawesi Selatan, pengerukan 22 juta meter kubik pasir di area penangkapan ikan utama menyebabkan pendapatan nelayan lokal anjlok hingga 80%.

Pascal Peduzzi, Direktur basis data informasi sumber daya global UNEP di Jenewa, menegaskan bahwa pasir memiliki peran esensial dalam mengatur aliran sungai, menyaring air, dan menjaga keanekaragaman hayati. “Pasir adalah pertahanan utama kita terhadap kenaikan permukaan laut dan pengasinan akuifer pesisir,” ujarnya.

Ancaman Bencana Perkotaan

Bagi Maladewa, yang 80% daratannya berada kurang dari satu meter di atas permukaan laut, pilihannya tampak mustahil: membangun lahan baru atau tenggelam. Namun, analisis teknis terhadap rencana penggunaan lahan di Gulhifalhu menunjukkan bahwa kepadatan populasi yang direncanakan justru berisiko menciptakan bencana perkotaan baru.

UNEP mendesak ada perombakan tata kelola ekstraksi pasir secara global. Perencana kebijakan membutuhkan data yang lebih akurat, pemetaan area bernilai ekologis tinggi, serta transparansi penuh dalam mematuhi aturan lingkungan guna menghindari kehancuran struktur alam yang lebih luas. (The Guardian/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *