Tuesday, September 22

6 Saham RI Didepak MSCI, Asing Kabur Rp50 Triliun dari Pasar Modal


Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta.(MI/Usman Iskandar)

PASAR modal Indonesia menghadapi tekanan hebat setelah enam saham berkapitalisasi besar resmi didepak dari MSCI Global Standard Index dalam rebalancing Mei 2026. Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengungkapkan bahwa langkah ini menjadi pemicu utama derasnya arus modal asing yang keluar dari bursa domestik.

Berdasarkan data perdagangan hingga 12 Mei 2026, total aksi jual bersih (net sell) investor asing sejak awal tahun telah menembus angka Rp50,63 triliun. Pada perdagangan harian saja, tekanan jual asing tercatat mencapai Rp1,3 triliun.

“Dampaknya cukup besar karena MSCI merupakan acuan utama banyak fund manager global dan dana indeks pasif dunia. Ketika sebuah saham dikeluarkan dari indeks MSCI, maka banyak investor institusi asing otomatis wajib mengurangi bahkan menjual kepemilikannya agar portofolionya tetap sesuai komposisi indeks,” ujar Hendra pada Media Indonesia, Selasa (13/5).

Keenam saham yang keluar dari indeks bergengsi tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Hendra menilai saham-saham ini masih rentan volatil dalam jangka pendek akibat aksi forced selling dari pengelola dana pasif.

Selain faktor MSCI, Hendra menyoroti tekanan eksternal dari penguatan dolar AS yang membuat nilai tukar rupiah melemah mendekati Rp17.500 per dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia yang mendekati US$100 per barel akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.

“Ketika harga minyak naik tinggi di tengah rupiah yang melemah, maka risiko imported inflation, pelebaran defisit transaksi berjalan, dan tekanan terhadap APBN ikut meningkat. Investor akhirnya mulai khawatir terhadap stabilitas fiskal,” tambahnya.

Secara teknikal, Hendra memproyeksikan IHSG berpotensi menguji area support psikologis di level 6.700 hingga 6.585. Namun, ia menekankan bahwa tekanan ini umumnya bersifat jangka pendek dan teknikal. Investor disarankan untuk tetap tenang dan mulai melirik peluang akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas yang valuasinya sudah terkoreksi dalam. (Z-10)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *