
SELAMA lebih dari satu abad, para ilmuwan hanya mengakui keberadaan 17 hingga 18 spesies penguin di seluruh dunia. Namun, sebuah penelitian mengungkapkan penguin Gentoo, yang selama ini dianggap sebagai satu spesies tunggal yang tersebar luas, sebenarnya terdiri dari empat spesies yang berbeda secara genetik.
Penelitian yang dipimpin para ahli dari Universitas Chili dan Universitas California, Berkeley ini menjadi sangat istimewa karena menandai penemuan spesies penguin baru pertama yang diakui secara resmi dalam kurun waktu 100 tahun terakhir.
Pemisahan ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap 64 individu penguin dari 10 koloni pembiakan yang berbeda di seluruh Samudra Selatan. Meskipun secara fisik mereka terlihat sangat mirip dengan ciri khas perut putih dan punggung hitam, data genetik menunjukkan adanya isolasi yang kuat antar populasi.
Para peneliti mengusulkan agar tiga subspesies yang sudah dikenal sebelumnya dinaikkan statusnya menjadi spesies penuh, yaitu penguin Gentoo utara (Pygoscelis papua), penguin Gentoo timur (P. taeniata), dan penguin Gentoo selatan (P. ellsworthi).
Sementara itu, populasi di Kepulauan Kerguelen diidentifikasi sebagai spesies yang benar-benar baru bagi sains, yakni penguin Gentoo tenggara atau Pygoscelis kerguelensis.
Isolasi Menghasilkan Berbagai Adaptasi
Penyebab utama terbentuknya empat spesies ini adalah sifat penguin Gentoo yang sangat setia pada lokasi sarangnya. Mereka cenderung kembali ke tempat yang sama setiap tahun dan tidak melakukan perjalanan jauh dari koloni asalnya karena pola makan mereka yang sangat beragam, mulai dari ikan hingga cumi-cumi, selalu tersedia di sekitar habitatnya.
Kurangnya perpindahan antar pulau ini menyebabkan isolasi genetik selama ratusan ribu tahun.
Analisis genom menunjukkan bahwa setiap spesies telah mengembangkan adaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan spesifik mereka. Misalnya, penguin Gentoo selatan yang hidup di Antartika memiliki gen yang lebih banyak berkaitan dengan pembentukan panas tubuh dan penyimpanan lemak untuk bertahan di suhu ekstrem.
Sebaliknya, penguin Gentoo timur memiliki adaptasi genetik yang mendukung kapasitas menyelam lebih lama dan metabolisme karbohidrat yang lebih efisien. Penemuan ini membuktikan bahwa selisih kecil dalam ukuran tubuh atau suara ternyata menyimpan perbedaan genetik yang sangat dalam.
Meski begitu, hal ini membawa kekhawatiran besar terkait pelestarian hewan tersebut. Dengan membagi Gentoo menjadi empat spesies, populasi masing-masing spesies menjadi lebih kecil dan lebih rentan, terutama terhadap dampak perubahan iklim.
Berdasarkan model iklim tahun 2050, sebagian besar habitat di pulau-pulau sub-Antartika diprediksi akan menjadi tidak layak huni. Hanya spesies yang tinggal di daratan utama Antartika yang diperkirakan mampu bertahan atau bahkan memperluas wilayahnya.
Juliana Vianna, salah satu penulis utama penelitian dan profesor di Universitas Nasional Andrés Bello, Chili, menekankan bahwa spesies yang menetap di pulau-pulau terpencil akan sangat sulit untuk pindah ke wilayah lain jika lingkungan mereka berubah..
Oleh karena itu, para peneliti mendesak lembaga konservasi internasional untuk segera memberikan perlindungan khusus bagi masing-masing spesies baru ini agar mereka tidak punah sebelum sempat dipelajari lebih jauh.(IFLScience/Phys.org/Z-2)
