
SATU tahun setelah kunjungan kenegaraan yang penuh kemegahan di Timur Tengah, Presiden Donald Trump kembali melakukan perjalanan diplomatik besar ke Tiongkok. Namun, kali ini suasana jauh berbeda. Trump tiba di Beijing di tengah tekanan domestik akibat inflasi yang melonjak, penurunan tingkat kepuasan publik, dan konflik militer dengan Iran yang kian memanas.
Pergeseran Dinamika: Dari Ofensif ke Defensif
Berbeda dengan kunjungannya ke Arab Saudi setahun lalu yang diwarnai deklarasi besar tentang peran Amerika di dunia, pertemuan di Beijing kali ini berlangsung lebih formal dan kaku. Presiden Xi Jinping menyambut Trump dengan rasa hormat tetapi tetap menunjukkan sikap tegas, terutama terkait prioritas strategis Tiongkok.
Trump datang dengan harapan besar untuk mengamankan kesepakatan dagang guna mendongkrak ekonomi AS. Namun, Xi Jinping justru mengalihkan fokus pada isu Taiwan.
Pemimpin Tiongkok tersebut memperingatkan ada potensi bentrokan dan konflik jika perselisihan mengenai pulau tersebut tidak dikelola dengan baik. Ia menempatkan isu kedaulatan di atas investasi ekonomi.
Hasil Diplomasi yang Minim Detail
Kunjungan ini berakhir dengan hasil yang dianggap mengecewakan oleh pasar. Saham Boeing mencatat penurunan sebesar 8 persen selama periode kunjungan Trump di Beijing.
Meskipun Trump menyatakan kegembiraannya karena para eksekutif bisnis AS dapat bertemu langsung dengan Xi, tidak banyak bukti konkret mengenai transaksi besar yang dihasilkan. Beberapa poin utama dari hasil pertemuan tersebut meliputi:
- Rencana kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih pada September mendatang.
- Pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang terganggu akibat konflik Iran.
- Ketidakpastian mengenai paket senjata senilai US$14 miliar untuk Taiwan yang masih tertahan di pemerintahan Trump.
Kutipan Trump: “Saya tidak meminta bantuan apa pun, karena ketika Anda meminta bantuan, Anda harus memberikan bantuan sebagai imbalannya. Kita tidak butuh bantuan,” ujar Trump kepada wartawan di Air Force One terkait pembicaraan soal Iran dengan Tiongkok.
Taiwan dan Visi Baru Amerika
Sikap Trump terhadap Taiwan menunjukkan pergeseran dari doktrin tradisional AS. Ia mengisyaratkan kurangnya minat untuk mengikuti preseden era 1980-an (era Ronald Reagan). “Perang sejauh 9.500 mil adalah hal terakhir yang kita butuhkan saat ini,” katanya.
Para analis di Tiongkok melihat ini sebagai bagian dari visi Trump untuk mengubah Amerika Serikat dari hegemon unipolar menjadi negara bangsa biasa yang memiliki bayang-bayang lebih kecil di panggung global. “Dia ingin mengubah hubungan AS dengan seluruh dunia secara fundamental dan dia bersedia membayar harganya,” ujar Da Wei, direktur Pusat Keamanan dan Strategi Internasional di Universitas Tsinghua.
Tantangan Struktural yang Tersisa
Meskipun pertemuan itu menjaga pintu dialog tetap terbuka untuk menstabilkan hubungan dalam beberapa bulan ke depan, ketegangan struktural yang mendalam tetap ada. Tiongkok kini tampak lebih proaktif dan memegang kendali dalam membentuk hubungan bilateral, menyadari bahwa kebijakan tekanan ekonomi (tarif) yang diterapkan AS sebelumnya tidak selalu membuahkan hasil.
Dengan fokus Trump yang kini terbagi oleh krisis di Iran dan ekonomi domestik yang bergejolak, ruang gerak untuk merombak total hubungan dengan Tiongkok menjadi sangat terbatas. Sebaliknya, Beijing tampak bermain dengan cakrawala waktu yang lebih panjang, melihat melampaui masa jabatan Trump hingga tahun 2028 dan seterusnya. (The Washington Post/I-2)
