Tuesday, September 22

Riset Genetik Ungkap Mengapa Korban Kekerasan Anak Rentan Mengalami Kekerasan Saat Dewasa


Ilustrasi(Magnific)

KEKERASAN di masa kanak-kanak dapat berdampak panjang bagi kehidupan seseorang. Para peneliti telah lama menemukan penyintas kekerasan anak jauh lebih rentan mengalami kekerasan dalam hubungan romantis saat dewasa, meskipun alasan di balik polanya belum sepenuhnya dipahami.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Regional Health – Europe mencoba menguraikan keterkaitan tersebut. Dipimpin Patrizia Pezzoli dari University College London (UCL), riset ini menganalisis data lebih dari 11.000 kembar di Inggris melalui proyek Twins Early Development Study guna memisahkan faktor genetika dari faktor lingkungan.

Selama ini, pembuktian hubungan langsung ini kerap membingungkan ilmuwan. Sebab, keluarga yang mengalami kekerasan sering kali juga menghadapi masalah kemiskinan, isolasi, hingga gangguan kesehatan mental. Melalui metode analisis DNA khusus terhadap 8.400 partisipan, tim peneliti mengevaluasi 18 sifat psikologis dan perilaku yang diduga menjadi jembatan antara trauma masa kecil dan kekerasan saat dewasa.

Jalur Psikologis yang Terbentuk sejak Kecil

Studi menemukan faktor genetika menyumbang sekitar 17%-31% variasi dalam pengalaman kekerasan. Namun, gen tidak menentukan takdir seseorang menjadi korban. Sebaliknya, DNA memengaruhi respons emosional, impulsivitas, dan cara seseorang menghadapi situasi stres.

Menariknya, saat faktor genetik dan lingkungan eksternal disaring, hubungan langsung antara kekerasan masa kecil dan kekerasan dalam hubungan dewasa ternyata mengecil. Namun, sekitar 65% keterkaitan yang tersisa justru bergerak melalui jalur psikologis yang dibentuk oleh pengalaman masa kecil tersebut.

Dari 18 sifat yang diteliti, ada tiga kerentanan utama yang paling konsisten muncul: tingkat kesejahteraan subjektif (subjective well-being) yang rendah, masalah perilaku (conduct problems), dan agresivitas. Orang dengan kesejahteraan subjektif yang rendah umumnya memiliki jaringan sosial dan sumber daya emosional yang lebih lemah saat menghadapi situasi sulit.

“Apa yang ditunjukkan oleh studi ini kepada kita adalah bahwa perlakuan salah di masa kanak-kanak dapat meninggalkan bekas psikologis yang dapat meningkatkan risiko bahaya dalam hubungan romantis,” jelas Pezzoli. “Namun, bekas-bekas luka tersebut tidaklah abadi dan dapat diatasi melalui intervensi yang tepat sasaran.”

Mengubah Pola Pencegahan

Pezzoli menekankan bahwa masalah perilaku atau agresivitas yang muncul pada korban bukanlah cacat karakter, melainkan bentuk adaptasi psikologis agar bisa bertahan hidup di lingkungan masa kecil yang berbahaya. Oleh karena itu, hasil studi ini tidak boleh disalahartikan untuk menyalahkan korban atas pengalaman buruk mereka.

Temuan ini sekaligus mengubah arah program pencegahan kekerasan yang selama ini berfokus pada edukasi hubungan secara umum. Para peneliti menyarankan agar program intervensi beralih pada dukungan kesejahteraan emosional, bantuan perilaku sejak dini, serta program pola asuh yang tepat. Masa remaja dinilai menjadi jendela waktu paling krusial untuk memutus rantai trauma ini.

“Sifat-sifat yang diidentifikasi dalam studi ini bukanlah konsekuensi yang tak terhindarkan atau permanen dari perlakuan salah di masa kanak-kanak,” kata Pezzoli. “Meskipun program berbasis bukti yang secara khusus menargetkan kelompok ini masih minim, temuan ini memberikan panduan yang lebih jelas tentang apa saja yang perlu ditangani oleh intervensi tersebut, dan masa remaja mungkin menjadi jendela waktu yang sangat penting, mengingat betapa formatifnya pengalaman hubungan awal.” (Earth/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *