Wednesday, September 30

Rahasia Manusia Es Ötzi Ilmuwan Temukan Mikroba Berusia 5.300 Tahun yang Masih Hidup


Ahli mikrobiologi Mohamed Sarhan memeriksa koloni ragi yang diambil dari sampel perut Ötzi.(Andrea De Giovanni/Eurac Research)

SELAMA lebih dari lima milenia, tubuh Ötzi sang “Manusia Es” membeku di lapisan gletser Pegunungan Alpen sebelum akhirnya ditemukan pada 1991. Publik selama ini menganggap mumi zaman tembaga tersebut sebagai peninggalan prasejarah yang statis dan mati. Namun, sebuah penelitian terbaru mematahkan asumsi itu dengan temuan mengejutkan: Ötzi ternyata menyimpan sebuah ekosistem mikroba purba yang masih hidup dan aktif berkembang biak.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Microbiome, sekelompok ilmuwan dari Institute for Mummy Studies di Eurac Research, Italia, melakukan analisis genomik mendalam terhadap sampel kulit, jaringan dalam, dan air lelehan dari ruang penyimpanan mumi. Hasilnya menunjukkan bahwa tubuh Ötzi dipenuhi oleh keanekaragaman bakteri serta jamur (ragi) yang sangat adaptif terhadap suhu dingin ekstrem.

“Studi kami mengungkapkan Ötzi bukanlah relik yang statis dan tidak aktif secara biologis, dia adalah ekosistem yang dinamis,” kata ahli mikrobiologi Mohamed Sarhan selaku penulis utama penelitian tersebut.

Sarhan menambahkan, tubuh Ötzi menjadi rumah bagi organisme yang aktif merespons lingkungan sekitar. “Ragi yang beradaptasi dengan dingin terus tumbuh. Bakteri tertentu telah berkolonisasi dan bertahan di jaringan tubuhnya selama beberapa dekade. Mumi ini, dalam arti yang sebenarnya, merupakan antarmuka biologis yang hidup, sebuah titik temu antara dunia kuno dan masa kini, di mana mikroba dari 5.000 tahun lalu hidup berdampingan dengan organisme yang baru datang satu dekade lalu,” jelasnya.

Secara garis besar, mikroba di tubuh Ötzi terbagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah bakteri usus purba bawaan sejak ia hidup 5.300 tahun silam. Menariknya, bakteri pencernaan purba ini sangat jarang ditemukan pada manusia modern di masyarakat industri, melainkan lebih mirip dengan mikrobioma masyarakat tradisional pra-industri yang kaya serat.

Kelompok kedua adalah ragi pencinta dingin (psychrophilic) yang berasal dari lingkungan gletser tempat Ötzi meninggal akibat hantaman anak panah. Salah satu penemuan paling mencolok adalah minimnya kerusakan DNA pada sebagian sampel ragi tersebut. Karakteristik ini membuktikan bahwa sel-sel jamur tersebut tidak sekadar terawetkan, melainkan masih aktif bereproduksi dalam ruang preservasi museum yang bersuhu minus 6 derajat Celsius.

Meskipun aktivitas mikroba ini belum menunjukkan tanda-tanda merusak struktur kulit atau jaringan ikat Ötzi, para ilmuwan merekomendasikan pengawasan genomik secara berkala. Pemantauan ini sangat penting untuk memastikan mikroba purba maupun kontaminan modern tidak mengancam kelestarian mumi berharga ini di masa depan. (CNN/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *