Wednesday, September 30

Epidemiolog Sebut Hantavirus tidak Mudah Menyebar Antarmanusia


Ilustrasi(Magnific.com)

MUNCULNYA pembahasan Hantavirus di media sosial belakangan ini memunculkan kekhawatiran publik. Banyak masyarakat mulai membandingkannya dengan Covid-19 yang sebelumnya menyebabkan pandemi global. Namun, ahli epidemiologi menegaskan bahwa karakteristik Hantavirus sangat berbeda sehingga potensi penyebarannya tidak sama dengan virus Corona.

Spesialis Ahli Epidemiologi sekaligus Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minsarnawati mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya tetap waspada tanpa harus merasa panik berlebihan.

“Kalau Covid itu penularannya langsung dari manusia ke manusia. Sementara Hantavirus perantaranya adalah hewan pengerat seperti tikus dan celurut,” kata Minsarnawati dalam keterangannya, Sabtu (13/6).

Ia menjelaskan, perbedaan pola penularan tersebut membuat Hantavirus tidak mudah menyebar secara cepat seperti Covid-19. Virus Corona diketahui dapat berpindah antarmanusia melalui percikan saluran pernapasan, sedangkan Hantavirus umumnya menular melalui paparan hewan pengerat yang terinfeksi.

Menurutnya, penularan dapat terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan urin, air liur, kotoran, maupun debu yang telah terkontaminasi tikus atau hewan pengerat lainnya. Karena berasal dari hewan, penyakit ini termasuk dalam kategori zoonosis.

“Kalau Corona kan dari manusia ke manusia melalui saluran pernafasan, sementara Hantavirus selama ini yang terjadi masih sebatas antarhewan, kemudian menular ke manusia,” ujarnya.

Minsarnawati menilai kekhawatiran masyarakat terhadap virus baru tidak lepas dari pengalaman panjang selama pandemi Covid-19. Trauma kolektif yang masih tersisa membuat informasi mengenai penyakit menular baru mudah memicu kecemasan publik, meski setiap virus memiliki tingkat risiko dan pola penyebaran yang berbeda.

Berdasarkan data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, kasus Hantavirus telah ditemukan di berbagai wilayah dunia, termasuk Amerika, Asia, Eropa, hingga Afrika. Indonesia sendiri pernah mencatat kasus Hantavirus, namun jenis yang ditemukan berbeda dengan jenis yang memiliki tingkat kematian tinggi di kawasan Amerika.

Secara medis, Hantavirus terbagi menjadi dua jenis utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). HFRS merupakan jenis yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di Asia serta Eropa, termasuk yang pernah terdeteksi di Indonesia. Sementara HPS menyerang paru-paru dan lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika dengan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Belum lama ini, publik juga sempat dihebohkan oleh kabar seorang warga negara Indonesia yang berada dalam satu kapal pesiar dengan penumpang yang terkonfirmasi Hantavirus. Namun setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, warga tersebut dinyatakan negatif terinfeksi.

Minsarnawati menambahkan, kondisi daya tahan tubuh menjadi faktor penting yang menentukan tingkat kerentanan seseorang terhadap penyakit. Dalam epidemiologi, kondisi tersebut dikenal sebagai susceptible host.

“Bisa jadi kita sama-sama kontak dengan kotoran tikus, tetapi mungkin saya yang terkena, sementara yang lain tidak karena daya tahan tubuhnya lebih kuat,” ungkapnya.

Ia menyebut sejumlah kelompok memiliki risiko paparan lebih tinggi, di antaranya petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, hingga petugas laboratorium hewan yang sering berinteraksi dengan lingkungan berpotensi terkontaminasi hewan pengerat.

Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan perlindungan diri saat membersihkan area kotor.

“Kuncinya adalah menjaga kebersihan lingkungan kita. Tikus itu suka pada lingkungan yang kotor,” tegasnya.

Selain menjaga kebersihan, masyarakat juga dianjurkan meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, istirahat cukup, dan menghindari kebiasaan begadang.

Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, lemas, mual, diare, atau memiliki riwayat kontak dengan tikus maupun lingkungan yang berpotensi tercemar.

Di tengah derasnya informasi di media sosial, kewaspadaan dinilai penting. Namun, masyarakat diminta tidak mudah terjebak kepanikan. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan tetap menjadi langkah utama dalam mencegah berbagai penyakit menular. (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *