
KARATON Surakarta mematangkan persiapan pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang bakal digelar Selasa tengah malam menjelang Rabu dini hari (17/6). Tradisi keraton ini menjadi penanda pergantian tahun baru Jawa atau 1 Muharram 1447 H, dan telah berlangsung ratusan tahun.
Kegiatan Kirab Malam 1 Suro menjadi tradisi budaya paling sakral dan ikonik bagi kerayon dinasti Mataram Islam di Kota Solo. Setiap tahunnya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati kawasan Baluwarti, untuk menyaksikan prosesi kirab pusaka yang berlangsung dalam suasana hening atau tapa bisu.
Hewan klangenan keraton, kebo bule ketueunan Kiai Slamet berada di barisan terdepan sebagai cucuk lampah. ” Persiapan kirab, tidak mengalami perubahan berarti dari kegiatan serupa tahun lalu. Gladi bersih juga sudaj digelar,” kata Wakil Pengageng Karti Puro Keraton Surakarta yang juga Bupati Juru Kunci Astana Pajimatan Imogiri, KPH Djoyo Adilogo di kawasan landang kebo bule di Alun Alun Selatan.
Menurut dia, seluruh tahapan kirab disiapkan sesuai tata cara dan tradisi yang berlaku di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat, dengan dukungan tim Semut Ireng bersama para abdi dalem yang bertugas mengatur jalur kirab.
” Ada 30 personel diterjunkan membantu pengamanan di sepanjang rute kirab, untuk membuka jalan bagi rombongan pusaka, serta mengawal perjalanan Kebo Bule Kiai Slamet selama prosesi berlangsung,” imbuh cucu PB XII yang sudah melibatkan diri dalam Kirab Malam 1 Suro sejak 2004 itu.
Djoyo Adilogo menjelaskan bahwa pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang dipandu kebo bule keturunan Kiai Slamet, merupakan dhawuh dari Pakoe Boewono XIV yang sebelumnya telah menyandang gelar sebagai KGPH Hangabehi.
Secara adat, dhawuh PB XIV untuk pelakaanaan kirab diteruskan melalui Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta GKR Koes Moertiyah Wandansari, untuk dikoordinasikan dengan pengageng Karti Puro sebagai pelaksana teknis di lapangan.
Kirab Pusaka 1 Suro selalu melibatkan Klkebo bule turunan Kiai Slamet. Karena itu untuk melestarikan adat itu kebo bule selalu harus dirawat secara baik. Perawatan dilakukan setiap hari, termasuk pemberian pakan, pemeriksaan kesehatan, hingga persiapan menjelang pelaksanaan kirab.
“Perawatan dilakukan secara rutin setiap bulan. Semua kebutuhan Kebo Bule selama ini menjadi tanggung jawab Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat yang saat ini dijabat oleh Gusti Moeng,” tegasnya.
Terpisah, srati atau perawat kebo bule keturunan Kiai Slamet, Heri, mengatakan bahwa seluruh kerbau keturunan Kiai Slamet telah menjalani berbagai persiapan khusus menjelang pelaksanaan kirab, termasuk dimandikan sebelum menjalankan tugas sebagai cucuk lampah.
“Kerbau dimandikan terlebih dahulu agar bersih dan siap mengikuti kirab,” tutur Heri seraya menyebutkan ada lima ekor kerbau keturunan Kiai Slamet yang dipelihara oleh Karaton Surakarta Hadiningrat, terdiri atas dua ekor jantan dan tiga ekor betina. (E-2)
