Tuesday, September 29

Kunjungi Haiti yang Dilanda Kekerasan Geng, Sekjen PBB Antonio Guterres Minta Maaf kepada Warga


Sekjen PBB Antonio Guterres meminta maaf kepada warga Haiti karena merasa dunia internasional telah menelantarkan mereka di tengah krisis kekerasan geng.(AFP)

SEKRETARIS Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyampaikan permohonan maaf kepada warga Haiti atas apa yang ia sebut sebagai pengabaian oleh komunitas internasional. Meski demikian, dalam kunjungannya ke negara Karibia yang dilanda kekerasan tersebut, ia mencatat masih ada “secercah” harapan.

Guterres mengunjungi sebuah bekas sekolah bernama Colombie yang kini dialihfungsikan menjadi tempat penampungan bagi lebih dari 1.250 orang yang telantar akibat kekerasan. Di dalam sebuah ruangan beratap seng yang sangat panas, seorang ibu dengan empat anak mengeluhkan kondisi hidup mereka yang tidak tertahankan.

“Lima puluh orang dalam satu ruangan, sepuluh keluarga, tanpa privasi,” ujarnya, sementara tetangganya mengeluhkan masalah kutu busuk dan anak-anak yang kehilangan akses sekolah.

Mendengar keluhan tersebut, Guterres langsung menyampaikan penyesalannya.

“Saya meminta maaf kepada Anda karena tidak mampu memobilisasi komunitas internasional,” kata Ketua PBB tersebut kepada mereka. “Kami tahu seberapa besar penderitaan yang Anda alami dan saya di sini untuk mendengarkan Anda.”

Krisis Kemanusiaan dan Dana yang Minim

Saat ini, situasi kemanusiaan di Haiti berada dalam kondisi kritis. Rencana bantuan kemanusiaan PBB tahun 2026 untuk Haiti yang dianggarkan sebesar US$880 juta, sejauh ini pendanaannya belum mencapai seperempat dari total kebutuhan.

Sebagai negara termiskin di benua Amerika, Haiti telah bertahun-tahun menderita akibat ketidakstabilan. Geng-geng bersenjata yang kuat terus melakukan pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, hingga penculikan secara merajalela.

Berdasarkan data PBB, hampir 1,5 juta orang kini telantar di negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa tersebut, dan lebih dari lima juta orang menghadapi kerawanan pangan yang parah.

Ketidakstabilan Politik yang Berlarut

Krisis keamanan di Haiti semakin memburuk pada awal tahun 2024, ketika gelombang kekerasan geng memaksa perdana menteri yang menjabat saat itu untuk mengundurkan diri. Posisi tersebut sempat digantikan oleh dewan presiden sementara. Namun, ketika mandat dewan tersebut berakhir pada Februari lalu, kekuasaan eksekutif beralih ke Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime, yang menyambut langsung kedatangan Guterres.

Haiti tercatat belum pernah menggelar pemilu lagi sejak tahun 2016, terutama akibat buruknya faktor keamanan. Presiden terakhir mereka, Jovenel Moise, tewas dibunuh pada Juli 2021.

Guterres, yang tiba menggunakan helikopter dari Republik Dominika, tetap menyuarakan optimismenya melalui sebuah unggahan di media sosial X.

“Situasi kemanusiaan di sini sangat memprihatinkan, namun ada secercah harapan yang redup,” tulis Guterres. “Kita harus membela Haiti.” (AFP/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *