Tuesday, September 29

Wakil Presiden AS JD Vance Masuk Zona Merah di Acara TV The View, Bahas Skandal Epstein hingga Isu Rasial


Wakil Presiden AS JD Vance menghadiri talk show “The View” yang dikenal kritis terhadap Trump. Simak debat panas terkait skandal Epstein, inflasi, hingga isu rasial.(The View)

WAKIL Presiden Amerika Serikat, JD Vance, tengah gencar muncul di berbagai stasiun televisi seperti Fox News, CNN, dan NBC minggu ini. Langkah ini dilakukan dalam rangka mempromosikan memoar barunya, “Communion”, sekaligus bersiap menghadapi kampanye pilpres 2028.

Namun, dari semua kemunculannya, kehadirannya di program “The View” milik ABC pada Selasa pagi menjadi yang paling disorot. Acara bincang-bincang siang hari ini dikenal sebagai ‘wilayah musuh’ bagi Vance karena didominasi oleh para pembawa acara yang kerap mengkritik pemerintahan Trump.

Suasana sempat menegang saat membahas mendiang pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Vance membenarkan kabar Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, secara pribadi menyebutnya sebagai seorang teoritis konspirasi.

“Saya menyayangi Susie, tapi tentu saja, dia berpikir saya seorang teoritis konspirasi dalam urusan Epstein,” ujar Vance. 

“Karena menurut saya gila bahwa Anda mendapati pria yang jelas-jelas merupakan predator seksual ini bergaul dengan banyak orang yang sangat kaya dan berkuasa. Seperti, hal itu sangat mengganggu saya. Saya tidak tahu apa yang ada di sana, tentu saja, tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi kecuali Anda berada di sana, tetapi itu sangat mengganggu saya, dan saya ingin adanya transparansi penuh.”

Ketika para pembawa acara mengungkit kedekatan masa lalu Donald Trump dengan Epstein, Vance mencoba membela Trump. Ia mengklaim bahwa Trump yang melaporkan Epstein ke polisi hingga berujung pada kejatuhannya. Namun, faktanya penyelidikan kepolisian terhadap Epstein sudah berjalan saat Trump menelepon polisi pada pertengahan 2000-an.

Dicecar Soal Inflasi dan Isu Rasial

Perdebatan berlanjut saat Vance mencoba merasionalisasi ucapan Trump baru-baru ini yang menyebut “Saya suka inflasi.” Vance berdalih bahwa maksud Trump adalah menyukai fakta bahwa inflasi akan turun setelah perang berakhir. Pembelaan ini langsung dipotong oleh pembawa acara Joy Behar.

“Apakah Anda penerjemahnya atau Anda wakil presidennya? Ayolah,” sindir Behar.

Vance juga dicecar oleh Whoopi Goldberg dan Sunny Hostin mengenai kebijakan pemerintahan yang dinilai menyudutkan warga kulit hitam, termasuk dihapusnya sejarah kulit hitam dari ruang publik. Menanggapi hal tersebut, Vance tidak menjawab secara langsung namun menegaskan posisi politiknya.

“Setiap orang disambut baik dalam koalisi politik kami,” tegas Vance, sembari menambahkan bahwa pemerintahannya merayakan seluruh sejarah.

Meskipun diwarnai ketegangan, diskusi tersebut tetap berjalan dengan sipil. Kepada Fox News, Vance menyatakan prinsipnya dan presiden adalah menyampaikan pesan ke mana saja, termasuk ke media yang tidak sejalan. Strategi promosi ini tampaknya berhasil, terbukti dengan buku “Communion” yang langsung melejit ke peringkat satu dalam daftar buku terlaris di Amazon pada hari peluncurannya. (CNN/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *