Thursday, October 1

Selat Hormuz Mulai Longgar, Tiga Kapal Minyak Iran Tinggalkan Area Blokade


Kapal tanker India di Selat Hormuz.(Dok. AFP/STR)

TIGA kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Iran dilaporkan berhasil keluar dari blokade Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz pada Selasa (16/6), beberapa hari menjelang penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran di Swiss.

Informasi tersebut disampaikan oleh TankerTrackers, situs pemantau lalu lintas pengiriman minyak dunia, melalui laporan yang dipublikasikan di platform resminya.

“Ekspos minyak mentah pertama Iran dalam dua bulan,” demikian keterangan yang dimuat dalam situs tersebut, dilansir Rabu (17/6).

Menurut data yang dipantau TankerTrackers, setidaknya tiga kapal tanker Iran telah meninggalkan area yang sebelumnya berada dalam pengawasan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat.

“Setidaknya dua kapal tanker super VLCC milik National Iranian Tanker Company (NITC) bernama DIONA (9569695) dan HERO2 (9362073) keluar dari perimeter blokade Angkatan Laut AS dengan membawa total gabungan 3,8 juta barel minyak mentah Iran,” tulis TankerTrackers melalui akun X resminya pada Selasa (16/6).

Lembaga pemantau itu juga melaporkan adanya kapal tanker ketiga yang berhasil meninggalkan area blokade. “Kapal tanker NITC ketiga, yang berjenis Suezmax, kini keluar dari garis blokade dengan membawa 1 juta barel minyak mentah Iran,” lanjut pernyataan tersebut.

Pergerakan kapal-kapal tanker tersebut terjadi di tengah perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tanda-tanda meredanya ketegangan.

Sebelumnya, Amerika Serikat memberlakukan pembatasan terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi terhadap Teheran. Di sisi lain, Iran sempat menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya pada akhir Februari lalu.

Keluarnya kapal-kapal tanker Iran dari area blokade dipandang sebagai salah satu sinyal awal menjelang penandatanganan MoU yang dijadwalkan berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada 19 Juni mendatang.

Berdasarkan informasi yang beredar, delegasi Iran akan dipimpin oleh Mohammad Bagher Ghalibaf. Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat hingga kini belum mengumumkan secara resmi siapa yang akan memimpin delegasi mereka dalam pertemuan tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyebut Wakil Presiden JD Vance akan menghadiri upacara penandatanganan kesepakatan tersebut. Vance juga telah mengonfirmasi kehadirannya dan menyatakan tidak menutup kemungkinan Trump turut datang ke Swiss.

MoU yang akan ditandatangani kedua negara dikabarkan mencakup sejumlah isu penting, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran, serta pembahasan mengenai masa depan program nuklir Teheran.

Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju proses negosiasi yang lebih luas untuk mengakhiri konflik antara kedua negara dan menciptakan fondasi bagi perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.

Dengan mulai bergeraknya ekspor minyak Iran dan meningkatnya intensitas diplomasi antara kedua pihak, perhatian dunia kini tertuju pada hasil pertemuan di Swiss yang dinilai dapat menentukan arah hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa tahun mendatang. (CNN/H-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *