
PT Bank BCA Syariah mencatat pembiayaan konsumen sebesar Rp 2,4 triliun pada Agustus 2026. Jumlahnya meningkat sebesar 34,69% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp 1,8 triliun.
Kepala Satuan kerja Bisnis Retail dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan menjelaskan, ada 3 sektor yang menopang pembiayaan konsumen BCA Syariah. Dari sektor pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR), BCA Syariah mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 1,7 triliun, naik 24,17% secara tahunan (yoy) dari sebelumnya Rp 1,4 triliun.
Kemudian, pembiayaan kredit kendaraan bermotor (KKB) senilai Rp 78 triliun, meningkat 32,59% yoy dari tahun sebelumnya sebesar Rp 59 triliun. Dan, pembiayaan emas sebesar Rp 598 triliun, melonjak 81,76% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 329 triliun.
“Emas itu bisa 81%. Jadi menurut kami ada sesuatu yang menarik buat masyarakat Indonesia untuk memilih investasi jangka panjang. Di samping itu bahwa memang ada pengaruh dari harga-harga komoditas,” kata Bukit di kantor BCA Syariah, Jakarta, Rabu (30/9).
Dari kinerja itu, kata Bukit, BCA Syariah melihat adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk memilih investasi, atau kebutuhan jangka panjang. Kehadiran perbankan syariah disebut dapat menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat membutuhkan pembiayaan, dan memiliki investasi jangka panjang.
“Tentunya dengan keuangan syariah maka masyarakat akan terbantu. Karena pembiayaan syariah tidak ada unsur spekulasi. Tentunya dengan dukungan itu masyarakat akan lebih selektif,” ujarnya.
Meski terus melakukan penetrasi di sektor pembiayaan, kata Bukit, BCA Syariah tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Sebagai bank syariah nasional, BCA Syariah menerapkan prinsip know your customer (KYC). Implementasi KYC dilakukan untuk mengenal data diri nasabah, atau pelanggan, sehingga terhindar dari tindak kejahatan finansial.
“Jadi know your customer itu tetap harus dijaga. Jadi kita tidak boleh agresif tapi tidak ada kontrolnya,” katanya.
