
UKRAINA meluncurkan serangan udara terbesar ke Moskow sejak awal invasi penuh Rusia. Serangan pesawat tanpa awak (drone) ini berhasil menghantam sejumlah lokasi strategis di ibu kota Rusia, membakar kilang minyak utama, serta memaksa evakuasi di bandara terbesar di negara tersebut.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan serangan ini merupakan respons langsung atas serangan Rusia ke kompleks biara bersejarah di Kyiv awal pekan ini.
“Kami tidak menginginkan perang ini dan tidak pernah menginginkannya,” ujar Zelenskyy dalam pesan suara kepada jurnalis. “Tetapi jika Ukraina akan terbakar, Moskow Anda juga akan terbakar… saatnya mengakhiri agresi, saatnya mengakhiri perang ini.”
Skala serangan jarak jauh ini mengejutkan warga Moskow, mengingat kota tersebut biasanya tidak memperingatkan penduduk dengan alarm serangan udara. Akibatnya, pesan-pesan panik bertebaran di media sosial. Setidaknya tujuh drone dilaporkan berhasil menembus pertahanan udara Rusia, termasuk satu yang menghantam gedung bertingkat di distrik Zhukovsky.
Dampak paling signifikan terjadi di kilang minyak Kapotnya, fasilitas energi vital yang memasok hingga 40% bensin dan 50% bahan bakar diesel untuk ibu kota. Rekaman video memperlihatkan tiga gumpalan asap membubung dari lokasi tersebut. Serangan ini merupakan yang kedua dalam dua hari di fasilitas yang sama, yang menurut otoritas setempat melukai sedikitnya 17 orang, termasuk dua anak-anak.
Akibat insiden ini, lalu lintas di jalan lingkar Moskow dekat kilang dihentikan, dan aktivitas penerbangan di bandara Vnukovo, Sheremetyevo, serta Zhukovsky mengalami gangguan. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udara mereka telah mencegat dan menghancurkan 555 drone Ukraina di berbagai wilayah, meski angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Merespons serangan di Moskow, Menteri Luar Negeri Rusia mengumumkan akan meluncurkan “serangan kelompok” besar-besaran ke Ukraina “secara berkala”. Seruan balasan yang lebih keras juga datang dari kelompok garis keras Rusia, termasuk miliarder ultrakonservatif Konstantin Malofeev yang mendesak penggunaan senjata nuklir melalui Telegram.
“Apa lagi yang harus terjadi sebelum kita mulai bertempur dengan sungguh-sungguh?” tulis Malofeev. “Mengapa kita tidak menggunakan senjata nuklir yang diciptakan dan ditimbun oleh nenek moyang kita… justru untuk momen seperti ini?”
Sementara itu, pensiunan Letnan Jenderal dan deputi duma negara, Andrey Gurulyov, turut menyerukan agar Rusia “menyerang musuh tanpa ampun.” Di tengah situasi memanas ini, Moskow melaporkan telah meluncurkan lebih dari 200 drone dan beberapa rudal balistik ke Ukraina sejak Rabu malam hingga Kamis pagi. (The Guardian/Z-2)
