
MISTERI mengenai alasan mengapa laju ekspansi alam semesta terus dipercepat kini kembali ke jalur teori yang semestinya. Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, kekuatan misterius yang dikenal sebagai energi gelap (dark energy) dipastikan tidak melemah, melainkan terus mempercepat peregangan ruang kosmis.
Temuan ini sekaligus membantah klaim mengejutkan pada November 2025 yang sempat menyatakan ekspansi alam semesta melambat akibat melemahnya energi gelap. Bagi para astronom, hasil riset terbaru ini menjadi angin segar yang menyelamatkan mereka dari apa yang disebut sebagai “krisis kosmologi.”
“Untungnya, kita telah menghindari krisis ini, tetapi misteri tentang mengapa laju ekspansi alam semesta masih terus dipercepat tetap ada,” ujar Phil Wiseman, pemimpin penelitian dari University of Southampton, Inggris, dalam sebuah pernyataan resmi.
“Pengukuran sebelumnya yang telah diterima dengan baik sebenarnya baik-baik saja, dan pemahaman kita saat ini tentang nasib alam semesta tetap kuat. Dengan membuktikan bahwa pengukuran kami benar, kami dapat kembali mencoba memahami apa sebenarnya energi gelap ini, daripada bertanya-tanya apakah ia benar-benar ada.”
Kembali ke tahun 1998, para astronom pertama kali menemukan alam semesta tidak hanya mengembang, melainkan kecepatannya terus bertambah. Fenomena ini dideteksi lewat pengamatan terhadap ledakan kosmis masif yang disebut Supernova Tipe Ia. Energi gelap kemudian disematkan sebagai nama untuk kekuatan misterius pendorong ekspansi tersebut, yang kini diketahui menyusun sekitar 70% dari seluruh materi dan energi di alam semesta.
Klaim keliru tahun 2025 muncul dari kesalahan penilaian terhadap tingkat kecerahan Supernova Tipe Ia. Jenis supernova ini terjadi saat bintang mati yang disebut katai putih menyerap materi dari bintang pendampingnya secara berlebihan, memicu ledakan nuklir dengan kecerahan yang sangat seragam. Karena sifatnya yang konstan, astronom menjulukinya sebagai “lilin standar” untuk mengukur jarak kosmis.
Studi tahun lalu menyimpulkan secara keliru bahwa kecerahan Supernova Tipe Ia berubah seiring bertambahnya usia alam semesta, yang kemudian memicu kesimpulan salah bahwa energi gelap tengah melemah. Namun, Wiseman dan timnya menemukan kesalahan fatal: peneliti terdahulu mengasumsikan usia bintang katai putih yang meledak sama dengan usia galaksi tempat mereka berada. Selain itu, riset tersebut gagal memperhitungkan koreksi massa galaksi yang biasa digunakan dalam kosmologi.
“Klaim yang luar biasa membutuhkan pengujian yang sangat hati-hati,” kata Adam Riess, anggota tim peneliti yang juga memenangkan Hadiah Nobel Fisika tahun 2011 atas penemuan energi gelap. “Apa yang kami temukan adalah ketika kami mengalibrasi supernova ini, dengan memperhitungkan lingkungan dan populasi inang yang berbeda, bukti percepatan kosmis tetap sangat konsisten.”
Meskipun perdebatan ini sempat mengguncang dunia sains, para peneliti sepakat bahwa dinamika naik-turun seperti inilah yang mendewasakan ilmu pengetahuan.
“Beginilah kemajuan dibuat,” tambah Mark Sullivan, anggota tim dari University of Southampton. “Meskipun ide (tahun 2025) tersebut ternyata tidak benar, hal itu telah membuka cara berpikir baru tentang bagaimana supernova meledak dan bagaimana kita dapat mengukur energi gelap secara lebih akurat.” (Space/Z-2)
