
GUNUNG Ili Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali erupsi, Minggu (28/6) pagi. Gunung Ili Lewotolok masih berada pada status Level II atau waspada.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok, Awaludin, mengatakan erupsi terjadi pada pukul 08.07 Wita. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 500 meter di atas puncak atau mencapai ketinggian sekitar 1.923 meter di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah tenggara,” kata Awaludin yang dikutip dari laporannya.
Dia menyebutkan, erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 10 milimeter dan durasi sekitar 37 detik. Selain itu, petugas juga melaporkan terdengar suara gemuruh dengan intensitas lemah.
Masyarakat yang berada di sekitar gunung, termasuk pengunjung, pendaki, dan wisatawan, diimbau untuk tidak memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.
Warga juga diminta mewaspadai potensi guguran atau longsoran lava serta awan panas yang dapat terjadi di sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut gunung.
Selain itu, masyarakat di sekitar gunung diimbau menggunakan masker atau pelindung mulut dan hidung, serta perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik.
Menurutnya, langkah ini penting untuk mencegah gangguan saluran pernapasan (ISPA) maupun masalah kesehatan lainnya. Warga juga diminta menutup tempat penampungan air bersih agar tidak tercemar abu vulkanik.
Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, maupun dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Badan Geologi di Bandung untuk memperoleh informasi terbaru mengenai aktivitas gunung api tersebut. (H-4)
