Wednesday, September 30

Ancaman Krisis Makin Berlapis, Kolaborasi Lintas Sektor Penting Perkuat Ketahanan Indonesia


Ilustrasi(Dok Istimewa)

Berbagai krisis kemanusiaan menunjukkan kolaborasi jadi bagian penting dalam setiap respons. Perubahan iklim, pengungsian, keterbatasan layanan dasar, hingga tantangan pendanaan terus memengaruhi kehidupan banyak masyarakat. Situasi ini mendorong berbagai pihak memperkuat koordinasi agar respons kemanusiaan berjalan lebih efektif.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam forum Humanitarian Update bertajuk Krisis Kemanusiaan Hari Ini: Apa yang Terjadi & Bagaimana Kita Merespons Bersama? yang digelar Human Initiative dalam rangka memperingati World Humanitarian Day 2026.

Forum ini mempertemukan organisasi kemanusiaan, lembaga filantropi, pemerintah, akademisi, dan berbagai mitra untuk membahas perkembangan tantangan kemanusiaan serta mencari penguatan pola kolaborasi dalam merespons krisis di Indonesia.

Vice President of Organizational Services & Development Human Initiative Andjar Radite mengatakan setiap krisis pada akhirnya selalu berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.

Karena itu, respons kemanusiaan tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan distribusi bantuan, tetapi juga harus memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan perlindungan dan diperlakukan bermartabat.

Menurut dia, kualitas respons kemanusiaan juga ditentukan ketepatan sasaran, keamanan, inklusivitas, dan akuntabilitas dalam setiap proses penanganan.

“Kita mungkin tidak mampu mencegah seluruh krisis, namun kita dapat memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapinya sendiri. Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu forum, namun kita dapat memulai langkah lebih terkoordinasi, lebih berani, dan lebih manusiawi,” ujar Andjar.

Pada sesi keynote speech, Head of OCHA Liaison Office to ASEAN Ronaldo G Reario menyoroti meningkatnya kebutuhan kemanusiaan, dampak perubahan iklim, keterbatasan pendanaan, serta tantangan menjangkau masyarakat terdampak. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kerja sama yang semakin erat.

“Tidak ada satu organisasi pun yang dapat menangani krisis kemanusiaan sendirian. Kolaborasi menjadi landasan utama bagi respons kemanusiaan yang efektif di tingkat nasional dan internasional,” kata dia.

Diskusi panel menghadirkan Direktur Eksekutif Humanitarian Forum Indonesia (HFI) Widowati, Plt Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Rully Amrullah, serta Direktur Eksekutif Aliansi Pembangunan Kemanusiaan Indonesia (AP KI) sekaligus Manager Humanitarian Diplomacy & Advocacy Human Initiative Muhammad Kaimuddin.

Widowati menggarisbawahi pentingnya membangun kolaborasi sebelum krisis terjadi. Jejaring antarlembaga membantu memperjelas koordinasi dan memperkuat peran organisasi lokal dalam setiap tahapan respons.

Rully Amrullah memandang filantropi tidak hanya menghimpun sumber daya, tetapi juga memperkuat kemitraan antara organisasi masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan komunitas. Kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan program sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat.

Adapun Muhammad Kaimuddin mengangkat isu polycrisis, yaitu berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan dan saling memengaruhi. Ia mendorong penguatan organisasi lokal, pemanfaatan teknologi, penggunaan data, serta kolaborasi lintas sektor agar setiap pihak dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya.

Forum ini menegaskan respons kemanusiaan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Organisasi kemanusiaan, pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat perlu saling melengkapi agar semakin banyak masyarakat yang dapat dijangkau.(H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *