
Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Demokrat Muhammad Lokot Nasution mendorong evaluasi menyeluruh terkait upaya peningkatan keselamatan perjalanan kereta api dan pola operasinya pasca kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur hingga menyebabkan korban tewas dan luka-luka.
Hal itu disampaikan Lokot menanggapi insiden kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam. Kecelakaan ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia dan korban luka-luka sebanyak 84 orang.
“Evaluasi penting. Penting tentang pola operasi dan yang lebih utama upaya peningkatan keselamatan perjalanan kereta api,” kata Lokot, Sabtu (9/5/2026).
Lebih lanjut, Lokot mengatakan, evaluasi terkait upaya peningkatan keselamatan perjalanan kereta api diperlukan agar ke depan tidak ada lagi kecelakaan hingga menelan korban jiwa. Dalam kesempatan itu, Lokot menyoroti penyebab terjadinya kecelakaan kereta KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Ia menyinggung soal penggunaan sinyal elektrik di kereta api Indonesia.
“Hampir seluruh Jawa kita sudah menggunakan sinyalnya itu, sinyal elektrik. Artinya, kayak situasi malam itu, di satu petak jalan itu ketika ada kereta berhenti, itu seharusnya merah sinyalnya, kalau sinyal hijau maka kemungkinan sistem sinyal error,” beber dia.
“Jadi kalau ditanya kenapa kok bisa jadi tabarakan malam itu? Kalau sementara ini, analisaku adalah sistem sinyal error atau jika sinyal baik, mungkin masinis lalai,” sambung dia.
“Namun demikian, sebaiknya semua pihak bersabar menunggu hasil investigasi yang sedang dilakukan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi), karena KNKT akan lakukan investigasi yang komprehensif dan profesional,” tuturnya.
Lokot juga mengingatkan pemerintah untuk menjalankan amanat UU Perkeretaapian tentang perlintasan harus dibuat tidak sebidang. “DJKA bersama PT KA harus segera menyelesaikan seluruh perlintasan sebidang yang masih ada, apakah ditutup atau dilengkapi dengan pintu perlintasan yang dijaga, terserah, mulai saja dari perlintasan yang operasi kereta apinya berfrekuensi tinggi dan headway rendah,” pungkasnya. (H-2)
