
KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menegaskan, kepercayaan investor menjadi faktor utama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global dan berbagai tantangan eksternal.
Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% secara tahunan pada triwulan II 2026 menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih cukup kuat. Namun, momentum tersebut perlu dijaga melalui kepastian kebijakan dan iklim investasi yang kondusif.
“Di tengah kondisi tersebut, kepercayaan investor menjadi faktor yang sangat penting,” kata Shinta.
Ia menjelaskan, investor membutuhkan kepastian kebijakan, konsistensi regulasi, stabilitas makroekonomi, serta kebijakan fiskal yang prudent sebelum merealisasikan investasi jangka panjang. Karena itu, pemerintah perlu memastikan berbagai hambatan investasi dapat segera diselesaikan agar rencana investasi yang telah disusun pelaku usaha dapat terealisasi.
Di sektor industri, Apindo mencatat industri pengolahan masih tumbuh sebesar 4,52% secara tahunan pada triwulan II 2026 dan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan pangsa sekitar 18,5%. Industri pengolahan juga tetap menjadi motor utama perekonomian melalui aktivitas produksi, investasi, ekspor, rantai pasok, dan penciptaan lapangan kerja. Beberapa subsektor yang mencatat kinerja positif antara lain industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
Meski demikian, Shinta mengingatkan pertumbuhan industri pengolahan masih berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%. Dengan kontribusinya yang besar terhadap PDB, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena industri manufaktur seharusnya mampu tumbuh lebih cepat agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal.
Menurutnya, pertumbuhan industri juga belum merata karena masih dibayangi sejumlah tantangan, seperti lemahnya permintaan di beberapa subsektor, perlambatan ekspor, tingginya biaya energi dan logistik, fluktuasi nilai tukar, ketergantungan terhadap bahan baku impor, hingga meningkatnya persaingan produk impor di pasar domestik. Di sisi lain, kenaikan biaya pembiayaan juga dinilai berpotensi menahan ekspansi dunia usaha.
Karena itu, Apindo memandang tantangan pada semester II 2026 bukan hanya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, tetapi juga meningkatkan kualitas dan keberlanjutannya.
“Pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat, stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, serta ketersediaan energi dan bahan baku dengan harga yang kompetitif,” tegas Shinta.
Selain itu, Apindo mendorong percepatan penyelesaian hambatan investasi, penguatan kepastian dan konsistensi regulasi, perlindungan pasar domestik dari praktik perdagangan yang tidak adil, serta dukungan terhadap peningkatan ekspor dan produktivitas industri.
Shinta menegaskan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% menunjukkan fundamental permintaan domestik masih terjaga. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat investasi produktif, mendorong pertumbuhan industri, meningkatkan ekspor bernilai tambah, serta menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas sehingga daya beli masyarakat dapat terus meningkat. (H-4)
