
RAKSASA energi asal Arab Saudi, Aramco, memperingatkan bahwa pasar minyak global tidak akan kembali normal hingga tahun depan, kecuali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dipulihkan dalam waktu satu bulan. Krisis ini diprediksi dapat memburuk dan berlangsung hingga tahun 2027 jika kebuntuan terus berlanjut.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyatakan bahwa stabilitas pasar sangat bergantung pada kecepatan pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut. “Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa pekan tambahan, maka akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” ujar Nasser dalam konferensi video hasil kuartal pertama perusahaan, Selasa (12/5/2026).
Menurut Nasser, pasar minyak dunia saat ini telah kehilangan satu miliar barel minyak akibat gangguan produksi dan transportasi. Selama Selat Hormuz tetap ditutup, dunia akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap minggunya. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas global, dengan rata-rata 70 kapal per hari sebelum konflik pecah.
Ketegangan di kawasan ini bermula sejak 28 Februari 2026, ketika serangan militer dilancarkan terhadap target-target di Iran. Eskalasi tersebut hampir menghentikan seluruh lalu lintas di Selat Hormuz, yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak per hari ke pasar global.
Upaya diplomasi sejauh ini masih menemui jalan buntu. Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menginisiasi Project Freedom untuk membantu kapal yang terjebak, operasi tersebut dihentikan sementara demi memberi ruang bagi kesepakatan damai. Namun, pada 11 Mei, Trump menyatakan bahwa respons Teheran terhadap proposal perdamaian AS sama sekali tidak dapat diterima.
- Total Kehilangan Pasokan: 1 Miliar Barel (hingga saat ini).
- Kehilangan Mingguan: 100 Juta Barel per minggu selama penutupan.
- Volume Normal: 20 Juta Barel per hari (sebelum 28 Februari).
- Lalu Lintas Normal: 70 kapal per hari.
- Prediksi Pemulihan: Tahun 2027 (jika kebuntuan berlanjut hingga pertengahan Juni).
Penutupan efektif selat oleh Iran sebagai respons atas serangan terhadap negara-negara penghasil minyak di Teluk Persia telah memicu lonjakan harga bahan bakar global dan mengganggu aktivitas ekspor sektor migas secara masif.
