Wednesday, September 30

Berat Badan Ayah Sebelum Pembuahan Bisa Picu Obesitas pada Anak


Ilustrasi(Magnific)

SELAMA bertahun-tahun, riset mengenai asal-mula obesitas pada anak selalu berputar pada faktor ibu, mulai dari pola makan, berat badan, hingga masa-masa kehamilan. Ayah kerap kali hanya dianggap sebagai sosok pendukung yang berdiri di luar lingkaran utama kesehatan anak. Namun, sebuah tinjauan ilmiah terbaru membalikkan perspektif tersebut dan menempatkan posisi ayah di bagian tengah.

Penelitian yang dipimpin Matthew J. Landry, asisten profesor kesehatan populasi dan ahli diet terdaftar di University of California, Irvine (UCI), bekerja sama dengan John James Parker dari Northwestern University, menganalisis riset selama satu dekade terakhir. Hasilnya menunjukkan berat badan dan kebiasaan seorang pria bahkan sebelum bayi dikandung (pra-konsepsi), dapat meninggalkan sinyal biologis pada spermanya yang memengaruhi metabolisme anak di masa depan.

Secara genetika, ayah menyumbang setengah dari DNA anak saat pembuahan. Faktor genetik sendiri menyumbang sekitar 40%-70% dari risiko obesitas. Kendati demikian, obesitas pada ayah terbukti meninggalkan tanda kimiawi pada sperma yang mengubah cara gen anak berperilaku sejak awal perkembangan.

Pria yang mengalami obesitas cenderung memiliki kualitas sperma yang lebih rendah, seperti jumlah sperma yang sedikit, pergerakan lambat, hingga kerusakan struktural pada DNA. Kerusakan ini meningkatkan risiko anak mengalami obesitas, terlepas dari kondisi berat badan sang ibu.

Kabar baiknya, kondisi biologis ini tidak bersifat permanen dan dapat diubah. Ketika seorang pria menurunkan berat badannya, pola kimiawi pada spermanya akan ikut menulis ulang dirinya sendiri menjadi lebih sehat.

Dalam salah satu studi, pria yang menjalani operasi penurunan berat badan menunjukkan perubahan cepat pada tanda kimiawi sperma mereka dalam waktu satu tahun, khususnya pada area gen yang mengatur nafsu makan. Selain operasi, perbaikan pola makan dan aktivitas fisik harian juga efektif meningkatkan kualitas sperma. Mengingat tubuh pria terus memproduksi sperma baru, jendela waktu tiga hingga enam bulan sebelum pembuahan menjadi masa krusial bagi ayah untuk memperbaiki kebiasaan hidupnya.

Tantangan tidak berhenti setelah bayi lahir. Menjadi ayah baru sering kali memicu kenaikan berat badan akibat berkurangnya waktu tidur, stres, dan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji. Di sisi lain, anak-anak adalah peniru yang andal. Mereka memperhatikan apa yang ada di piring ayah mereka dan menirunya.

Gaya hidup ayah juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti tingkat pendapatan, keamanan lingkungan, serta kesehatan mental. Depresi dan obesitas memiliki hubungan timbal balik yang erat. Depresi pada ayah tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental pasangannya, mengurangi keterlibatan dalam pola asuh harian, serta menghambat rutinitas pemeriksaan kesehatan keluarga.

Melalui temuan ini, para peneliti mendorong agar penyuluhan pra-konsepsi dan pemeriksaan prenatal tidak lagi hanya berfokus pada ibu, melainkan juga melibatkan para ayah sejak dini.

“Para ayah secara historis sering diabaikan,” kata Landry, menggarisbawahi bahwa melibatkan pria di fase awal kehamilan membuka peluang besar untuk intervensi kesehatan yang lebih baik. Melalui perbaikan kesehatan ayah sebelum pembuahan, risiko obesitas jangka panjang pada anak dapat ditekan secara signifikan. Sifat dampak biologis ini tidak kaku, memberikan kesempatan berharga bagi para ayah untuk ikut menentukan masa depan kesehatan anak mereka. (Earth/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *