
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa ancaman kekeringan di Indonesia diprediksi segera berakhir seiring masuknya musim hujan mulai Oktober hingga Desember 2026. Kendati demikian, fenomena El Nino di Samudra Pasifik diproyeksikan masih akan bertahan hingga kuartal I 2027.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa masyarakat perlu membedakan antara keberlangsungan fenomena El Nino di tingkat global dengan dampaknya terhadap kondisi iklim di tanah air. Menurutnya, sirkulasi angin monsun yang memasuki wilayah Nusantara akan memicu pembentukan awan hujan dan menghentikan kemarau panjang.
“Dampak El Nino terhadap kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya musim hujan yang dimulai bertahap pada Oktober, November, hingga Desember, meskipun fenomena El Nino di Pasifik diprediksi bertahan hingga akhir kuartal pertama 2027,” kata Ardhasena dilansir dari Antara, Selasa (22/9).
BMKG memproyeksikan puncak musim hujan akan terkonsentrasi pada Desember 2026 di 155 Zona Musim (ZOM), Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. Walau demikian, durasi musim hujan pada 482 ZOM diprediksi akan lebih pendek dari kondisi normalnya.
Meskipun durasinya lebih singkat, akumulasi curah hujan selama musim hujan 2026/2027 dipastikan tetap aman. BMKG mencatat curah hujan pada 510 ZOM (69,7 persen daratan) berada pada kategori normal, sementara 147 ZOM (18,5 persen daratan) akan mengalami curah hujan di atas normal.
Merespons transisi cuaca ini, BMKG menerbitkan serangkaian rekomendasi lintas sektor. Langkah mitigasi yang disarankan meliputi penyesuaian jadwal tanam varietas pendek di sektor pangan, optimalisasi daya tampung drainase dan waduk di sektor air dan energi, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi serta risiko demam berdarah di sektor kesehatan. (Ant/Z-10)
