Thursday, October 8

Bukan Cuma Faktor Usia, Ahli Ungkap 4 Kebiasaa yang Bisa Merusak Pendengaran


ilustrasi(Magnific)

SELAMA ini, gangguan pendengaran kerap diidentikkan dengan faktor penuaan atau paparan suara bising yang terlalu tinggi. Namun, seorang ahli saraf (neurologist) dari The Ohio State University Wexner Medical Center, Nick Andresen, mengungkapkan bahwa ada sejumlah faktor tak terduga dalam gaya hidup dan kesehatan sehari-hari yang turut memicu kerusakan pendengaran.

“Gangguan pendengaran tidak selalu disebabkan oleh penuaan atau paparan suara bising yang jelas. Paparan kebisingan memang salah satu penyebab yang paling dikenal, tetapi itu hanya sebagian dari gambaran keseluruhan,” ujar Andresen, seperti dikutip dari laporan New York Post.

Berikut adalah empat faktor tersembunyi yang dapat mengganggu kesehatan pendengaran menurut pandangan medis:

1. Kebiasaan Merokok

Merokok terbukti tidak hanya berdampak buruk bagi paru-paru dan jantung, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Semakin tinggi tingkat paparan rokok, semakin parah pula tingkat kerusakan pendengaran yang ditimbulkan.

Menurut Andresen, zat beracun dalam asap rokok serta berkurangnya suplai oksigen ke telinga bagian dalam menjadi mekanisme utama pemicu kerusakan tersebut. Kendati demikian, risiko ini dapat ditekan atau dipulihkan jika seseorang memutuskan untuk berhenti merokok.

2. Penggunaan Obat-obatan Jenis NSAID (Aspirin dan Ibuprofen)

Obat antiinflamasi nonsteroid (nonsteroidal anti-inflammatory drugs) seperti aspirin dan ibuprofen sangat umum dikonsumsi untuk meredakan nyeri atau menurunkan demam. Namun, penggunaannya secara rutin dalam dosis tinggi selama bertahun-tahun dapat merusak neuron pendengaran yang berfungsi mengirimkan sinyal suara dari telinga ke otak.

Meski demikian, Andresen menegaskan bahwa penggunaan obat-obat tersebut sesuai dengan dosis anjuran dokter tetap tergolong sangat aman. Overdosis aspirin umumnya hanya memicu gangguan pendengaran sementara serta tinnitus (telinga berdenging), yang akan berangsur hilang setelah obat keluar dari tubuh.

3. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Kesehatan kardiovaskular memegang peranan vital bagi fungsi pendengaran. Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil serta sel-sel rambut halus di telinga bagian dalam yang bertugas mengubah getaran suara menjadi sinyal saraf. Aliran darah yang tidak lancar ke koklea (organ pendengaran) berisiko memicu penurunan fungsi pendengaran secara bertahap maupun mendadak.

4. Dampak Kumulatif Suara Sehari-hari

Selain suara bising yang ekstrem, Andresen mengingatkan masyarakat agar mewaspadai akumulasi paparan suara sehari-hari yang sering dianggap sepele, seperti penggunaan headphone berlebihan, suara perkakas listrik, hingga bunyi mesin pemotong rumput.

“Sebisa mungkin, batasi paparan terhadap suara keras. Jika tidak dapat dihindari, gunakan pelindung pendengaran ketika berada di lingkungan yang bising, seperti saat menghadiri acara olahraga, konser, atau berada di sekitar mesin yang mengeluarkan suara keras,” pesan Andresen.

(Ant/P-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *