
PERSELISIHAN mengenai buku memoar terbaru Charles Spencer yang berjudul Swan Song: Diana, My Sister terus memanas. Adik kandung mendiang Putri Diana tersebut baru-baru ini menyampaikan permohonan maaf kepada jurnalis dan pembawa acara Piers Morgan atas kesalahan fakta yang tercantum dalam bukunya, meski tetap mempertahankan ingatan terkait percakapan telepon di antara mereka menjelang pemakaman Diana pada 1997.
Klarifikasi dan permohonan maaf tersebut disampaikan setelah Morgan mengancam akan mengambil langkah hukum atas sejumlah bagian dalam buku yang mendokumentasikan kehidupan dan kematian sang Putri Wales.
Dalam salah satu bagian buku, Spencer menceritakan momen saat ia menelepon Morgan untuk memberi tahu bahwa Morgan tidak diizinkan hadir dalam pemakaman Diana tahun 1997. Spencer tetap berpegang pada ingatannya bahwa Morgan bersikap “gusar dan jengkel” saat percakapan tersebut berlangsung.
Namun, Spencer mengakui adanya kekeliruan fakta terkait alasannya mengira Morgan bersikap demikian. Buku tersebut secara keliru menyebut Morgan sebagai Pemimpin Redaksi Daily Mirror ketika majalah/surat kabar dari grup tersebut memublikasikan foto-foto invasif Putri Diana saat berolahraga di gimnasium pada November 1993. Padahal, Morgan saat itu masih bekerja di The Sun dan baru bergabung dengan Daily Mirror pada 1995.
“Keterangan Earl Spencer mengenai percakapannya dengan Piers Morgan adalah akurat. Tuan Morgan bersikap gusar dan jengkel ketika Earl Spencer menelepon secara pribadi untuk memberi tahu bahwa ia tidak disukai hadir di pemakaman saudarinya,” bunyi pernyataan resmi dari pihak Spencer.
Pernyataan tersebut melanjutkan buku itu mencatat asumsi Spencer bahwa respons Morgan dipicu oleh jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Daily Mirror saat penerbitan foto-foto invasif tersebut.
“Sebagai seorang sejarawan, akurasi sangat penting bagi Earl Spencer. Oleh karena itu, ia ingin mengklarifikasi bahwa asumsinya tidak benar. Earl Spencer meminta maaf kepada Tuan Morgan atas kesalahan ini,” tambah pernyataan itu.
Dapat dipahami bahwa bagian yang keliru tersebut akan diperbarui pada edisi kedua buku Swan Song.
Di sisi lain, Morgan menegaskan permohonan maaf tersebut tidak akan menghentikan perselisihan dan berjanji akan terus melanjutkan upaya hukum.
“Earl Spencer telah meminta maaf kepada saya atas kebohongan pencemaran nama baik yang diterbitkan dalam buku barunya, Swan Song, yang terbit hari ini,” tulis Morgan melalui unggahan di X pada 22 September. “Namun saya tetap melanjutkan tindakan hukum terhadapnya dan penerbit Penguin agar kebohongan tersebut dihapus, serta ganti rugi dibayarkan kepada King’s Trust.”
Morgan juga membantah ingatan Spencer mengenai percakapan telepon mereka.
“Keterangan Earl Spencer tentang panggilan telepon kami juga sangat menyesatkan. Saya tidak gusar maupun jengkel, melainkan sangat menghormati beliau dan keluarganya, sebagaimana yang saya tulis dalam buku harian saya, The Insider,” tulis Morgan dalam unggahan terpisah. “Tampaknya ingatan Spencer tentang panggilan telepon sangat meragukan.”
Selain mendapat ancaman hukum dari Morgan, Spencer juga mendapat teguran dari Istana Buckingham atas klaim lain di dalam buku yang melibatkan Raja Charles III. Dalam pernyataan langka, pihak istana membantah keterangan Spencer yang menyebut Raja Charles pernah mengatakan bahwa Diana akan dilupakan “dalam waktu singkat” setelah kematiannya.
“Meskipun secara prinsip kami tidak memberikan komentar mengenai buku, Yang Mulia menyadari bahwa rasa sakit akibat duka persaudaraan dapat mengaburkan akal sehat, memengaruhi penilaian, dan mewarnai ingatan dengan cara yang tidak disadari orang lain, bahkan bertahun-tahun setelah kehilangan tersebut,” ujar juru bicara istana.
Kendati demikian, Spencer tetap teguh pada penjelasannya. Dalam wawancara pertamanya bersama BBC setelah tanggapan istana, ia menegaskan, “Saya bisa memberi tahu Anda di sini dan saat ini, itu adalah kata-kata persis yang dia katakan.”
Saat berbicara di Althorp, Spencer menyampaikan ia menulis memoar tersebut sebagai seorang sejarawan sekaligus sebagai saudara kandung Diana.
“Bagian dari tugas saya, sebagai seorang sejarawan, adalah membeberkan fakta, dan itulah yang sedang saya lakukan,” tuturnya. “Tidak ada kejahatan. Saya tidak dendam atau pahit atau hal-hal semacam itu.”
Di tengah sorotan publik terhadap sejumlah pengakuan dalam bukunya, Spencer menegaskan bahwa mendiang saudarinya tetap menjadi pusat utama dari penulisan memoar tersebut.
“Sosok sentral, satu-satunya yang benar-benar penting, adalah Diana,” pungkasnya. (People/Z-2)
