
PENEMUAN enam kerangka manusia di tepi ladang bunga matahari di Ukraina musim panas ini membuka kembali luka lama yang terkubur selama puluhan tahun. Sisa-sisa jasad tersebut bukanlah korban perang melawan Rusia saat ini, melainkan warga Polandia yang dibantai oleh ultranasionalis Ukraina selama Perang Dunia II.
Penemuan situs pemakaman di wilayah Volhynia ini kembali menggerus hubungan antara dua negara tetangga yang selama ini menjadi sekutu utama. Ukraina memuja Tentara Pemberontak Ukraina (UPA) sebagai pejuang kemerdekaan melawan Soviet dan Jerman. Sebaliknya, Polandia mengingat mereka sebagai pelaku pembantaian puluhan ribu warga sipil Polandia di sepanjang perbatasan modern kedua negara.
Celah bagi Propaganda Rusia
Sentimen negatif ini muncul kembali di tengah kecemasan warga Polandia terhadap lonjakan ekspor pertanian Ukraina dan beban menampung jutaan pengungsi. Kondisi ini memberikan celah bagi Rusia untuk memecah belah aliansi tersebut.
Moskow menggunakan pembelaan Ukraina terhadap UPA untuk membenarkan klaim Presiden Vladimir Putin mengenai denazifikasi Ukraina. “Salah satu pelajaran sejarah adalah: ketika Polandia dan Ukraina tidak bersatu, Moskow yang diuntungkan,” ujar Daniel Fried, mantan duta besar AS untuk Polandia.
Luka yang belum Sembuh
Zdzisław Żurowski, penyintas berusia 91 tahun, mengenang keluarganya harus bersembunyi di hutan saat desanya diserang. Hingga kini, proses ekshumasi masih terus berlangsung. Leon Popek, arkeolog dari Institut Memori Nasional Polandia, menyebut baru sekitar 850 korban yang ditemukan, hanya 1% dari total perkiraan korban tewas.
Ketegangan diplomatik memuncak musim semi ini ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengganti nama unit militer untuk menghormati UPA. Warsawa mengecam langkah tersebut sebagai kemunduran besar dalam proses rekonsiliasi. Sebagai respons, Polandia sempat mengancam akan memblokade upaya Ukraina bergabung dengan Uni Eropa selama pemujaan terhadap UPA terus berlanjut.
Upaya Meredam Ketegangan
Meski demikian, kedua pihak mulai mencoba menurunkan tensi. Zelensky menjanjikan pembukaan arsip intelijen bagi peneliti dan memberikan lampu hijau untuk lebih banyak ekshumasi di Volhynia. Di sisi lain, Polandia baru-baru ini mengumumkan paket bantuan militer baru senilai $50 juta (sekitar Rp750 miliar) dan melanjutkan pembicaraan mengenai pasokan jet tempur MiG-29.
Para pejabat Eropa memperingatkan bahwa keretakan ini tidak menguntungkan siapapun kecuali Rusia. Ukraina sangat membutuhkan bantuan militer Polandia, sementara Polandia membutuhkan teknologi drone Ukraina untuk memperkuat pertahanannya sendiri.
Pada akhir Agustus, pejabat pemerintah Polandia berkumpul di pemakaman tua dekat Ostrowka untuk memakamkan kembali 55 jenazah yang ditemukan musim panas ini. Bagi penyintas seperti Żurowski, bantuan untuk Ukraina tetap penting, tetapi sejarah tidak boleh dihapus.
“Ukraina berharap waktu akan berlalu dan semua orang akan lupa. Akan tetapi kami tidak bisa melupakan ini,” pungkasnya. (The Wall Street Journal/I-2)
