
SELAMA puluhan tahun, pendidikan kita terbiasa mengukur keberhasilan anak dengan satu pertanyaan sederhana: “Berapa nilainya?” Angka di rapor menjadi hakim atas kemampuan seorang anak, sementara proses panjang yang ia lalui, keberanian mencoba, kegigihan memperbaiki diri, dan keberanian mengakui kesalahan, sering luput dari perhatian.
Padahal, jika kita jujur, nilai yang tinggi belum tentu mencerminkan pemahaman yang mendalam, dan nilai yang rendah belum tentu berarti anak tidak belajar. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi di dalam diri anak dan tugas kita sebagai pendidik ialah melihatnya.
MELIHAT ANAK DARI PERTANYAAN SEDERHANA
“Bu, nilai saya berapa?” Pertanyaan itu sering saya dengar di kelas. Anak-anak ingin tahu apakah jawaban mereka benar dan hasil belajar mereka sesuai dengan harapan. Namun, dalam perjalanan mengajar, saya mulai memahami bahwa angka hanyalah salah satu bagian dari cerita seorang anak.
Di balik sebuah nilai, ada proses yang kadang tidak terlihat. Ada anak yang awalnya tidak berani menjawab, tetapi beberapa minggu kemudian mulai mengangkat tangan. Jika hanya melihat angka, perkembangan seperti itu mudah terlewat.
Saya teringat seorang siswa yang kurang percaya diri menyampaikan pendapat. Nilai latihan hariannya berkisar 50-70, dan wajahnya selalu kecewa, khawatir menghadapi orangtua di rumah. Namun, setelah beberapa bulan mendapat feedback yang membangun, ia mulai berani mengangkat tangan. Nilainya belum melonjak drastis, tetapi ia sudah mau mencoba, perkembangan yang tidak terlihat di rapor.
Sejak semester tahun ajaran 2025/2026, SD Sukma Bangsa Pidie menerapkan asesmen formatif berupa deskripsi dan feedback, bukan sekadar angka. Pada awalnya tidak mudah. Siswa masih bertanya, “Bu, nilainya berapa?” Perlahan siswa dan orangtua memahami bahwa feedback justru membantu anak mengetahui apa yang sudah dikuasai, apa yang perlu diperbaiki.
MEMBACA PROSES, BUKAN HANYA HASIL
Cara pandang itu mengubah cara saya membaca pekerjaan siswa. Ketika hasil seorang anak belum sesuai dengan harapan, saya tidak hanya melihat angkanya. Saya bertanya: bagian mana yang sudah dipahami? Bagian mana yang masih sulit? Apakah anak belum memahami konsep, kurang teliti, atau sebenarnya memahami tetapi belum percaya diri?
Apthorp, Harlacher, Klute, dan Reale (2017) menjelaskan asesmen formatif ialah proses mengumpulkan, memahami, dan menggunakan informasi tentang proses belajar untuk menentukan pembelajaran berikutnya. Feedback bukan sekadar ‘benar’ atau ‘salah’, melainkan juga memberikan arah. Misalnya, “Ide kamu sudah menarik. Coba tambahkan alasan agar lebih kuat.” Atau, “Cara berpikirmu sudah benar sampai langkah kedua. Mari lihat bagian berikutnya.” Hattie dan Timperley (2007) melalui The Power of Feedback menjelaskan feedback mendukung proses dan pencapaian belajar siswa.
Setelah mendapat feedback, anak diberi kesempatan memperbaiki. Jawaban yang belum tepat dapat dicoba kembali, tulisan yang belum lengkap dapat diperbaiki, dan presentasi yang belum maksimal dapat diulang. Tentu, menerapkan semua itu tidak selalu mulus. Sebagai guru dengan waktu 2 JP x 35 menit, saya memiliki kendala dalam memberikan feedback. Tidak semua siswa dapat saya berikan feedback dan apresiasi karena waktu terus berjalan, sementara guru mata pelajaran lain sudah berdiri di pintu kelas untuk pergantian jam. Terkadang buku siswa yang belum saya beri feedback terpaksa saya bawa ke ruang kerja, sementara orangtua bertanya, kenapa buku anaknya tidak dibawa pulang. Belum selesai satu kelas, saya sudah ditambah satu kelas lain yang juga harus diberi feedback.
Bagi saya, kesempatan memperbaiki bukan berarti memanjakan anak. Anak justru sedang belajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Penelitian Yao, Amos, Snider, dan Brown (2024) juga menunjukkan dampak positif asesmen formatif terhadap pencapaian akademik siswa. Dari sini saya belajar melihat anak berdasarkan perkembangannya, bukan membandingkannya dengan temannya. Saya lebih sering bertanya, “Apakah hari ini anak ini sudah berkembang kalau dibandingkan dengan dirinya yang kemarin?”
MERAWAT RUANG BELAJAR YANG AMAN
Cara pandang itu sejalan dengan lingkungan belajar yang ingin dibangun di SD Sukma Bangsa Pidie: kelas menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba kembali. Budaya itu dimulai dari kebiasaan sederhana. Anak belajar mengatakan tolong, maaf, terima kasih, selamat, dan berbicara dengan sopan. Ketika seorang anak salah menjawab, teman tidak menertawakan. Ketika belum berhasil, ia tidak langsung dianggap tidak pintar. Dari kebiasaan sederhana itulah ruang belajar yang aman dan damai tumbuh.
Ketika saya mulai membaca proses belajar anak, saya juga belajar sebagai guru. Saat banyak siswa belum memahami materi, saya bertanya: apakah cara saya menjelaskan sudah tepat? Apakah contoh yang diberikan dekat dengan kehidupan mereka? Kesalahan anak memberi saya informasi. Pertanyaan mereka menunjukkan kebutuhan. Proses belajar siswa juga menjadi feedback bagi guru.
Pada akhirnya, saya semakin percaya bahwa tidak semua pertumbuhan anak dapat terlihat dalam satu kali ulangan. Ada anak yang mulai berani berbicara. Ada yang belajar bertanggung jawab. Ada yang mulai mampu meminta maaf.
Karena itu, ketika melihat hasil belajar seorang anak, mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum bertanya, “Berapa nilainya?” Mari bertanya: “Apa yang sudah ia kuasai? Apa yang masih perlu dibantu? Kesempatan apa yang bisa kita berikan agar ia berkembang?”
Angka tetap memiliki tempat dalam pendidikan. Namun, angka bukan satu-satunya cerita tentang seorang anak. Tugas guru bukan hanya melihat hasil akhir, tetapi membaca proses, memberikan feedback, memberikan kesempatan memperbaiki, dan mendampingi anak sampai bertumbuh.
Mungkin suatu hari seorang anak tidak lagi mengingat berapa nilai yang pernah ia dapatkan. Namun, ia mungkin mengingat seorang guru yang berkata: “Tidak apa-apa kalau belum bisa. Kita coba lagi.”
Di balik setiap nilai, ada anak yang sedang belajar. Di balik setiap kesalahan, ada kesempatan untuk memperbaiki dan di balik setiap proses, ada manusia yang sedang bertumbuh.
