
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,61% (yoy), didorong kuat oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga, termasuk efek pemberian tunjangan hari raya (THR). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, momentum libur keagamaan serta berbagai stimulus pemerintah turut memperkuat daya beli, sehingga konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama dalam menopang laju ekonomi nasional di awal tahun ini.
Pada triwulan 1-2026, PDB Indonesia mampu tumbuh hingga melampaui periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87%. Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi triwulan 1-2026.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan 1-2026 tumbuh 5,61% (yoy), salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” ungkap Amalia pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/5).
Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yaitu 2,94%
Kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan 1-2026 utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan Hari Besar Keagamaan (Nyepi dan Idulfitri, red), berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi, serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75% sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen lainnya yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan 1-2026 dari sisi pengeluaran adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh solid sebesar 5,96%. Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, antara lain pembangunan terkait prioritas nasional dan investasi swasta.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh impresif hingga 21,81% seiring meningkatnya realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 (THR) serta peningkatan belanja barang dan jasa terutama melalui program untuk masyarakat: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat lima sektor utama yang memberikan kontribusi besar terhadap total PDB triwulan 1-2026, yaitu industri pengolahan (19,07%), perdagangan (13,28%), pertanian (12,67%), konstruksi (9,81%), dan pertambangan (8,69%).
Beberapa sektor turut mencatat pertumbuhan yang tinggi, seperti akomodasi dan makan minum yang mampu tumbuh hingga 13,14% didorong oleh perluasan cakupan program MBG dan momen libur nasional; sektor jasa lainnya tumbuh 9,91%, didorong oleh peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara dan kunjungan wisatawan mancanegara; serta sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Selanjutnya, BPS mencatat sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,04% pada triwulan 1-2026 (yoy). Kinerja sektor ini terutama didorong oleh industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Amalia.
Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor mampu tumbuh 6,26% pada triwulan 1-2026 (yoy) seiring meningkatnya produksi domestik dan impor. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi barang pertanian dan industri pengolahan, impor barang-barang konsumsi, barang modal dan bahan baku, serta aktivitas belanja masyarakat.
Sementara itu, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan yang solid 5,49% pada triwulan 1-2026 (yoy), didorong oleh peningkatan aktivitas konstruksi baik oleh pemerintah maupun swasta. Sedangkan sektor pertanian tumbuh stabil pada angka 4,97% untuk triwulan 1-2026 (yoy).
Secara regional, pada triwulan-1 2026, wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93%, diikuti Sulawesi 6,95% serta Jawa 5,79% (yoy). (E-4)
