Thursday, October 8

Empat Kecamatan di Kota Tangerang Alami Krisis Air Bersih


Warga mengantre untuk mengambil air bersih.(Dok. Antara)

DAMPAK musim kemarau panjang mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kota Tangerang yang kini mengalami krisis air bersih. Kondisi ini dipicu oleh mengeringnya sumur-sumur warga dan sumber air permukaan akibat minimnya curah hujan dalam waktu lama.

Setidaknya terdapat empat kecamatan yang terdampak cukup parah, yakni Kecamatan Ciledug, Pinang, Larangan, dan Karang Tengah. Menanggapi situasi tersebut, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Benteng (TB) Kota Tangerang secara rutin mengirimkan bantuan tangki air bersih ke wilayah-wilayah tersebut.

“Hampir setiap hari permohonan bantuan air bersih selalu datang dari masyarakat di empat kecamatan tersebut. Bahkan belakangan ini permohonan bantuan itu semakin sering karena panjangnya musim kemarau,” ujar Direktur Umum Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang, Tommy Herdiansyah, Kamis (8/10).

Belum Terjangkau Jaringan Pipa

Tommy menjelaskan bahwa mayoritas warga yang mengajukan bantuan air bersih adalah mereka yang selama ini mengandalkan air bawah tanah dan bukan merupakan pelanggan Perumda TB. Hal ini dikarenakan jaringan pipa distribusi memang belum menjangkau wilayah-wilayah tersebut.

“Selama ini warga di daerah ini memang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari Perumda TB, karena memang belum adanya jaringan pipa ke wilayah tersebut,” paparnya.

Namun, ia memastikan bahwa pihaknya tengah berupaya memperluas cakupan layanan. Saat ini, proses pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan jaringan perpipaan sedang berjalan, sehingga diharapkan distribusi air bersih dari Perumda TB dapat segera menjangkau masyarakat di empat kecamatan tersebut dalam waktu dekat.

Normalisasi Kualitas Air Sungai Cisadane

Selain masalah kekeringan, Perumda TB juga sempat menerima keluhan terkait kualitas air yang keruh. Tommy mengungkapkan bahwa penurunan kualitas air baku terjadi akibat menyusutnya debit air di Sungai Cisadane selama musim kemarau.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihak Perumda TB telah melakukan langkah-langkah teknis guna menormalkan kembali kualitas air, salah satunya dengan pengerukan sedimentasi di sekitar area intake.

“Alhamdulillah setelah dilakukan pengerukan di sekitar intake dan air diolah sebagaimana mestinya, kualitas air kembali normal dan layak pakai sesuai ketentuan Menteri Kesehatan,” pungkas Tommy. (H-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *