Wednesday, September 30

Gen Z Pilih Healing dan Fleksibilitas Ketimbang Beli Rumah


Ilustrasi(Magnific)

KONDISI ekonomi global, lonjakan biaya hidup, serta menyusutnya lowongan kerja tingkat pemula (entry-level) telah mengubah total cara pandang Generasi Z (Gen Z) terhadap uang. Sebuah survei keuangan terbaru bertajuk Money Study yang dirilis oleh Wells Fargo mengungkapkan mayoritas anak muda berusia 18 hingga 28 tahun kini menghadapi tekanan finansial yang sangat besar.

Bahkan, hampir separuh dari responden Gen Z dalam studi tersebut tanpa ragu menggambarkan kehidupan finansial mereka saat ini dengan satu kata: “berantakan”.

Masih Bergantung pada Orangtua

Realitas pahit ini memaksa banyak dari mereka untuk tetap bersandar pada keluarga. Survei tersebut menunjukkan 64% orangtua mengaku masih memberikan dukungan finansial kepada anak-anak mereka yang sudah masuk kategori usia Gen Z dewasa. Bantuan tersebut umumnya digunakan untuk menutupi kebutuhan pokok, seperti biaya tempat tinggal dan pengeluaran sehari-hari.

Namun, fenomena ini bagai buah simalakama. Sebanyak 56 persen orang tua mengaku bahwa beban finansial tambahan untuk menyokong anak-anak mereka yang beranjak dewasa ini mulai memberikan tekanan dan mengganggu stabilitas keuangan mereka sendiri.

Emily Irwin, kepala perencanaan kekayaan pribadi di Wells Fargo, memberikan pandangannya terkait dinamika ini.

“Tidak mengherankan jika orang dewasa muda bersandar pada keluarga dan sumber nontradisional untuk mendapatkan dukungan, tetapi dinamika ini juga memberikan tekanan pada orang tua,” kata Emily Irwin dalam siaran persnya.

Oleh karena itu, Irwin menekankan pentingnya komunikasi yang transparan di dalam keluarga. “Komunikasi yang terbuka, harapan yang jelas, dan perencanaan bersama dapat membantu keluarga melewati tahapan ini bersama-sama,” lanjutnya.

Memilih Side Hustle Demi Bertahan Hidup

Untuk menyiasati situasi pelik tersebut, Gen Z tidak tinggal diam. Alih-alih mengandalkan satu pekerjaan kantoran konvensional, mereka lebih memilih membangun karier melalui metode nontradisional. Sepertiga dari responden dalam studi Wells Fargo mengaku mengambil pekerjaan sampingan (side hustle) sepanjang tahun lalu demi menambah pemasukan.

Kendati sebagian anak muda menyukai kebebasan dan fleksibilitas yang ditawarkan oleh ekosistem kerja lepas (gig economy), bagi mayoritas Gen Z, memiliki beberapa pekerjaan sekaligus bukanlah sebuah pilihan gaya hidup yang mereka inginkan, melainkan sebuah keharusan mutlak agar mereka tetap bisa bertahan hidup di tengah krisis biaya hidup. (Parents/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *