Tuesday, September 22

Harga Kedelai ImPor dan Plastik Melonjak, Perajin Tempe Kelimpungan


Ilustrasi(MI/LILIK DARMAWAN)

HARGA kedelai impor yang melonjak berdampak pada perajin tempe di Banyumas, Jawa Tengah. Perajin makin kelimpungan karena sebelumnya harga plastik yang naik tinggi. 

Harga kedelai impor dalam sepekan terakhir terus mengalami kenaikan. Harga bahan baku utama tempe itu naik sekitar Rp100 per kilogram (kg) setiap hari hingga kini menembus Rp10.500-Rp10.600 per kg. Sebelumnya, harga kedelai impor masih berada di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per kg.

Salah satu perajin tempe, Bakhur Fauzi, di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran mengatakan bahwa lonjakan harga mulai terasa sejak sekitar satu minggu terakhir.

“Sekitar Minggu lalu mulai naik. Memang kenaikannya bertahap sekitar Rp100 setiap hari, sekarang sudah mencapai Rp10.600 per kg,” ujar Fauzi, Rabu (20/5).

Tidak hanya harga kedelai, biaya produksi lainnya juga ikut meningkat. Harga plastik pembungkus tempe, misalnya, naik cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu semakin membebani produsen yang tidak seluruhnya menggunakan daun pisang sebagai kemasan. “Harga plastik bening ukuran 4 kg yang sebelumnya Rp24.000, sekarang menjadi Rp34.000,” katanya.

Meski ongkos produksi meningkat, para produsen tempe mengaku belum berani menaikkan harga jual. Mereka khawatir konsumen akan keberatan jika harga dinaikkan. Di sisi lain, produsen juga enggan mengurangi kualitas maupun ukuran produk demi menekan biaya produksi. “Harga jual masih sama. Kalau dinaikkan pembeli protes. Saya juga tidak mau mengoplos bahan lain atau mengurangi ukuran tempe,” ujar Fauzi.

Fauzi memproduksi berbagai jenis tempe, mulai dari tempe mendoan, tempe papan, tempe munthuk hingga tempe srapah. Saat ini, tempe papan ukuran 2 kilogram dijual Rp28.000 per buah, tempe daun isi dua lapis Rp1.000, sedangkan tempe munthuk dan tempe srapah dijual Rp800 per bungkus.

Ia menduga kenaikan harga kedelai berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat. Pasalnya, bahan baku yang digunakan merupakan kedelai impor dari Amerika Serikat. “Bisa jadi karena dampak dolar naik, karena kedelai yang dipakai impor dari Amerika,” katanya.

Dalam sehari, Fauzi mampu memproduksi sekitar 500 bungkus tempe dengan kebutuhan bahan baku mencapai 30 kilogram kedelai per hari.

Perajin lainnya, Damilah, juga merasakan kebingungan karena harga kedelai melonjak. “Saya tidak berani menaikkan harga tempe, takut kalau nanti tidak ada yang beli. Apalagi sekarang daya beli juga belum baik,”katanya. (H-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *