Thursday, September 24

IHSG Hari Ini Melemah Akibat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed


Pengunjung melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta(MI/Usman Iskandar)

INDEKS Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini 24 September 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan bergerak di zona merah. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi akan berlanjut pada pertemuan Oktober mendatang.

IHSG dibuka terkoreksi 9,93 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.364,98. Senada dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 2,55 poin atau 0,40 persen ke level 630,63.

Ringkasan Pergerakan Pasar (24/9/2026):







Indeks/Komoditas Posisi/Level Perubahan
IHSG 6.364,98 -0,16%
Indeks LQ45 630,63 -0,40%
Minyak Brent > 100 USD/barel Menguat

Analisis Teknikal dan Sentimen Global

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa IHSG saat ini berada dalam tekanan koreksi. Jika level support di 6.347 kembali ditembus, indeks berpotensi meluncur ke area 6.290-6.180. Sebaliknya, untuk melakukan rebound, IHSG harus mampu kembali ke atas level 6.422-6.451.

Tekanan pasar global bersumber dari data ekonomi Amerika Serikat yang solid. S&P Global Composite PMI AS naik ke level 58,4 pada September 2026, tertinggi sejak Juli 2021. Kondisi ini memperkuat pernyataan Gubernur The Fed, Michael Barr, mengenai perlunya penyesuaian kebijakan lebih lanjut untuk menekan inflasi ke target 2 persen.

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Oktober 2026 kini mencapai 60 persen. Hal ini memicu pelemahan di bursa Wall Street dan Eropa pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Geopolitik dan Kebijakan Domestik

Selain faktor suku bunga, pasar mencermati ketidakpastian hubungan AS-Iran serta kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington. Ketegangan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah jenis Brent kembali ke atas level 100 dolar AS per barel.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) tetap optimis bahwa tingkat suku bunga acuan saat ini masih memadai untuk menjaga stabilitas Rupiah. BI juga memperkuat langkah stabilisasi melalui insentif biaya hedging, termasuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna menarik aliran modal asing.

Di sisi fiskal, pemerintah tengah merancang skema insentif pajak baru sebagai alternatif tax holiday yang akan berakhir pada Desember 2025. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan dengan penerapan Global Minimum Tax (GMT) sebesar 15 persen sekaligus menjaga daya tarik investasi nasional.

Berbeda dengan IHSG, mayoritas bursa Asia bergerak menguat pada Kamis pagi. Indeks Nikkei melonjak 1,54 persen, Shanghai Composite naik 0,59 persen, dan Kospi menguat 0,90 persen. Namun, indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau melemah 0,49 persen. (Ant/H-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *