
IKAN remora selama ini dikenal sebagai “penumpang gratis” yang gemar menempel pada tubuh hiu, paus, hingga penyu. Namun, sebuah studi terbaru mengungkap tempat persembunyian yang sangat tidak terduga, lubang kloaka atau area pembuangan di bagian belakang pari manta.
Penemuan ini menantang pemahaman lama para ilmuwan mengenai hubungan simbiosis antara ikan remora dan inangnya. Jika sebelumnya hubungan ini dianggap saling menguntungkan (mutualisme), perilaku baru ini menunjukkan adanya potensi kerugian bagi sang inang.
Perilaku yang Mengejutkan
Penulis utama studi, Emily Yeager, kandidat doktor di University of Miami, menyebut perilaku ini “cukup aneh”. Dalam satu observasi yang dicatat dalam jurnal Ecology and Evolution pada Senin (11/5), seorang penyelam melihat ikan remora yang tampak terkejut dengan kehadirannya, kemudian dengan cepat menyelinap masuk ke dalam lubang kloaka pari manta dewasa.
Kloaka sendiri merupakan lubang multifungsi pada pari manta yang digunakan untuk bereproduksi, melahirkan, sekaligus membuang kotoran.
“Merespons intrusi ini, pari manta tersebut tampak gemetar sejenak sebelum terus berenang menjauh dengan ikan remora yang masih berada di dalam lubang kloakanya,” tulis tim peneliti dalam laporan tersebut.
Fenomena Luas Namun Jarang Terlihat
Yeager mengumpulkan data dari para ahli pari manta di seluruh dunia dan menemukan bahwa aksi “menyelam ke kloaka” ini tercatat sebanyak tujuh kali dalam 15 tahun terakhir. Fenomena ini terjadi di berbagai samudra, mulai dari Maladewa hingga Florida, dan melibatkan ketiga spesies pari manta (M. yarae, M. birostris, dan M. alfredi).
Meskipun jarang terlihat, para peneliti meyakini perilaku ini sebenarnya tersebar luas di alam liar.
Simbiosis atau Parasitisme?
Secara historis, hubungan remora dan inangnya sering dikategorikan sebagai komensalisme (satu untung, satu tidak terpengaruh) atau mutualisme (keduanya untung karena remora memakan parasit di kulit inang). Namun, Yeager berpendapat lain setelah melihat temuan ini.
“Saya berpendapat ini adalah bukti dari hubungan yang lebih bersifat parasit, yang merupakan pemahaman baru bagi kita tentang bagaimana hubungan ini berfungsi di alam liar,” ujar Yeager.
Bagi pari manta, keberadaan remora di area sensitif tersebut dapat menyebabkan cedera fisik, rasa tidak nyaman, hingga meningkatkan beban energi karena mereka harus berusaha melepaskan ikan tersebut. Bahkan, hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu proses reproduksi sang inang.
Yeager menekankan bahwa hubungan simbiosis di laut sebaiknya tidak dilihat dalam kotak kategori yang kaku, melainkan sebagai sebuah kontinum atau spektrum yang bisa berubah-ubah. Ia mengibaratkannya seperti hubungan keluarga.
“Kalian mungkin berhubungan sangat baik, tapi terkadang bertengkar, bukan? Hubungan semacam itu kemungkinan besar juga ada dalam komunitas ekologi ini,” pungkasnya. (Live Science/Z-2)
