Monday, September 21

Industri Pelayaran Dunia Ragukan Project Freedom Milik Trump di Selat Hormuz


Ilustrasi(Media Sosial X)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana ambisius bernama “Project Freedom” untuk membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini lumpuh akibat konflik. Melalui media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memandu kapal-kapal yang terjebak keluar dari jalur air strategis tersebut.

Misi Kemanusiaan di Tengah Konflik

Trump menyebut operasi ini sebagai gerakan kemanusiaan atas nama Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, dan khususnya Iran.

“Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk menginformasikan bahwa kami akan berupaya semaksimal mungkin agar kapal dan awak mereka keluar dari selat dengan selamat,” tulis Trump.

Meski demikian, rincian mengenai bagaimana lebih dari 850 kapal yang terjebak akan dibebaskan masih belum dipaparkan secara detail. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan dukungan militer untuk proyek ini akan melibatkan kapal perusak rudal, lebih dari 100 pesawat, platform nirawak, serta 15.000 personel.

Respons Iran dan Gejolak Pasar Minyak

Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, ketegangan justru meningkat. Kantor berita Fars melaporkan bahwa sebuah kapal perang AS terkena dua rudal setelah mengabaikan peringatan Iran, meski pihak AS membantah klaim tersebut.

Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 5% menjadi US$114,45 per barel. Krisis ini dikhawatirkan dapat membawa ekonomi global ke jurang resesi, mengingat harga minyak saat ini sudah 50% lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik.

Para ahli dan pelaku industri pelayaran mempertanyakan keberlanjutan rencana ini tanpa adanya kesepakatan dengan pihak Iran. Sascha Meijer, Sekretaris Jenderal serikat pelaut Nautilus, menyuarakan kekhawatirannya.

“Pelaut yang terjebak akan sangat menghargai perlindungan untuk berlayar keluar. Namun, apakah perlindungan ini pasti? Bagaimana dengan ranjau? Apakah kapal-kapal tersebut diasuransikan? Terlalu dini untuk menyimpulkan apakah ini berita baik atau justru menciptakan bahaya baru,” ujar Meijer.

Senada dengan itu, Raman Kapoor, seorang kapten kapal tanker yang terjebak di selat, menyatakan keberatan untuk mengambil risiko tersebut.

“Sebagai kapten, adalah tugas saya untuk menilai situasi. Saya harus mendapatkan persetujuan dari seluruh kru, apakah mereka bersedia mempertaruhkan nyawa mereka. Ini adalah proses yang panjang,” tuturnya kepada BBC Radio 4.

Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, aliran energi dunia melalui Selat Hormuz yang biasanya mencapai 20% dari total global nyaris terhenti sepenuhnya. (The Guardian/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *