Tuesday, September 22

Ingin Mendaki Gunung Berapi Ini Tips dan Panduan Lengkapnya


Sejumlah wisatawan asing berjalan saat memulai pendakian melalui jalur Bawak Nao Gunung Rinjani, Sembalun, Lombok Timur, NTB, Sabtu (8/6/2024).(Antara)

BAGI para pencinta alam dan wisatawan yang berencana melakukan pendakian, persiapan matang bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Kementerian Pariwisata menekankan bahwa memiliki bekal pengetahuan dan persiapan fisik yang memadai sangat krusial, terutama saat akan mendaki gunung berapi aktif.

Cek Status Aktivitas Gunung Sebelum Berangkat

Langkah pertama dan utama sebelum memulai pendakian adalah memantau status aktivitas vulkanik gunung yang dituju. Wisatawan sangat disarankan untuk memeriksa informasi terkini melalui aplikasi Magma Indonesia yang dikelola oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Jika status gunung dinyatakan tidak aman, Kementerian Pariwisata dengan tegas mengimbau wisatawan untuk membatalkan rencana pendakian. Namun, jika kondisi dinyatakan memungkinkan, pastikan Anda selalu mematuhi aturan batas zona aman dan zona berbahaya yang telah ditetapkan.

Peran Pemandu Lokal dan Perlengkapan Wajib

Demi menjamin keselamatan, Kementerian Pariwisata memberikan instruksi khusus:

“Pastikan untuk menghubungi pemandu lokal bersertifikat yang telah dibekali kemampuan untuk mengetahui secara persis titik-titik mana yang aman dan kapan harus tahu membatalkan pendakian,” kata Kementerian Pariwisata.

Selain pendampingan profesional, pendaki juga wajib mempersiapkan fisik dengan optimal serta membawa perbekalan yang cukup. Jangan lupa untuk mengenakan perlengkapan yang tepat, seperti tas dan sepatu khusus gunung. Mengingat risiko gunung berapi, membawa masker respirator sangat disarankan sebagai antisipasi terhadap paparan abu vulkanik atau gas beracun.

Utamakan Keselamatan, Bukan Puncak

Kepatuhan terhadap regulasi dari PVMBG dan pengelola kawasan pendakian adalah mutlak. Wisatawan diminta untuk selalu kooperatif terhadap arahan petugas di lapangan dan tidak memaksakan diri mencapai puncak jika kondisi lingkungan tidak mendukung.

Mengenai etika dan pola pikir pendaki yang bijak, kementerian menyampaikan:

“Menjadi pendaki yang hebat bukan berarti berani mati, tapi tahu kapan harus berhenti demi keselamatan diri dan orang lain,” kata kementerian.

Terakhir, Kementerian Pariwisata mengingatkan seluruh pendaki untuk selalu menjaga kelestarian alam dan menghormati kawasan pendakian yang dikunjungi. Dengan persiapan matang dan sikap yang bertanggung jawab, pengalaman mendaki akan menjadi jauh lebih aman dan bermakna. (Ant/E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *