Friday, September 18

Kebiasaan Makan Instan di Rumah Bisa Berpengaruh pada Pertumbuhan Anak


Kebiasaan keluarga memilih makanan instan atau ultra processed food dinilai masih menjadi tantangan.(MI/Muhammad Ghifari A)

KEBIASAAN keluarga memilih makanan instan atau ultra processed food dinilai masih menjadi tantangan dalam upaya membangun sistem pangan yang lebih sehat di Indonesia. Padahal, pola makan yang dibentuk sejak dini berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak sekaligus menjadi salah satu faktor pendukung terwujudnya generasi Indonesia Emas 2045.

Kepala Sekretariat Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), Gina Karina, mengatakan keputusan memilih makanan di rumah sering kali dipengaruhi keinginan agar anak mau makan dengan mudah. Akibatnya, banyak orang tua lebih memilih makanan instan dibandingkan makanan segar atau real food.

“Yang sering kami temui, orang tua akhirnya memilih makanan instan karena anak susah makan atau gerakan tutup mulut (GTM). Padahal memang perlu sedikit usaha agar anak terbiasa mengonsumsi real food,” kata Gina di kegiatan Family Fun Food Day di Jakarta (25/7).

Menurutnya, pembiasaan mengonsumsi makanan segar harus dilakukan sejak usia dini, bahkan dimulai ketika anak menjalani masa makanan pendamping ASI (MPASI). Preferensi rasa yang terbentuk pada masa awal kehidupan akan memengaruhi pola konsumsi anak hingga dewasa.

Ia menjelaskan, anak yang sejak kecil terbiasa mengonsumsi makanan dengan cita rasa kuat cenderung lebih sulit menerima makanan alami. Karena itu, keluarga perlu konsisten mengenalkan makanan yang beragam dan minim proses pengolahan.

Gina mengingatkan konsumsi makanan ultra processed food secara berlebihan juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dalam jangka panjang. Selain kandungan yang telah melalui banyak proses pengolahan, sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi makanan ultra proses dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular.

“Kami mendorong masyarakat sebisa mungkin memilih real food karena kita tahu asal pangannya dan kualitas gizinya lebih baik untuk pertumbuhan anak,” ujarnya.

Selain kualitas makanan, KSPL juga menyoroti persoalan limbah pangan yang masih banyak berasal dari sektor rumah tangga. Menurut Gina, persoalan tersebut berawal dari perencanaan menu, penyajian makanan yang berlebihan, hingga sisa makanan yang akhirnya terbuang.

Karena itu, keluarga didorong mulai membiasakan menyajikan makanan sesuai kebutuhan serta mengolah kembali makanan yang masih layak konsumsi. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menekan angka food waste yang selama ini menjadi salah satu penyumbang persoalan lingkungan.

Gina menambahkan, membangun sistem pangan yang sehat tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab ibu sebagai penyedia makanan di rumah. Ayah dan anak juga memiliki peran dalam menentukan kebiasaan makan keluarga.

Menurutnya, keputusan memilih menu sehari-hari sering kali dipengaruhi preferensi seluruh anggota keluarga. Apabila anak menolak makanan sehat atau ayah tidak mendukung perubahan pola konsumsi, ibu cenderung kembali memilih makanan instan yang lebih praktis.

“Karena itu edukasi harus menyasar seluruh anggota keluarga. Sistem pangan yang sehat tidak bisa dibebankan hanya kepada ibu,” katanya.

Lebih jauh, Gina menilai perbaikan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung target Indonesia Emas 2045. Meski bukan satu-satunya penentu, asupan gizi yang baik berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Di sisi kebijakan, KSPL juga mendukung arah transformasi sistem pangan nasional yang mulai mendorong pemanfaatan pangan lokal melalui pendekatan sistem pangan berbasis wilayah atau eco-regional food system. Menurut Gina, perubahan tersebut perlu diiringi peningkatan kesadaran masyarakat agar pangan lokal yang sehat semakin diminati.

“Transformasi sistem pangan hanya bisa terjadi kalau semua pihak terlibat. Pemerintah, organisasi, hingga masyarakat harus bergerak bersama agar pangan yang sehat, beragam, dan berkelanjutan benar-benar menjadi pilihan utama keluarga Indonesia,” ujarnya. (Z-10)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *