Saturday, September 19

Mengenal Bedah Robotik, Presisi Medis di Tangan Dokter


Seorang dokter sedang melakukan bedah robotik(MI/HO)

“DOK, serem banget dioperasi sama robot.” Kalimat bernada cemas ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc. (Humrepro), FESICOG, MIGS. Sebagai Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di RSU Bunda Jakarta, ia sering kali harus menenangkan pasien yang membayangkan sebuah mesin bekerja sendiri di dalam tubuh mereka tanpa kendali manusia.

Kenyataannya, teknologi bedah robotik jauh dari bayangan film fiksi ilmiah. Robot dalam konteks medis tidak mengambil keputusan mandiri. Sebaliknya, dokter tetap memegang kendali penuh atas setiap gerakan instrumen melalui sebuah konsol atau pusat kendali.

Pionir Perempuan di Balik Konsol Robotik

Perjalanan Sita dimulai pada 2013, ketika ia mencatatkan sejarah sebagai dokter perempuan pertama yang bergabung dalam tim bedah robotik ginekologi di Indonesia. Saat itu, teknologi ini baru setahun diperkenalkan di RSU Bunda Jakarta dan masih terasa asing bagi banyak pihak, termasuk dirinya sendiri.

Berbeda dengan operasi konvensional, Sita tidak berdiri tepat di sisi pasien. Ia duduk beberapa meter dari meja operasi, menempelkan wajah pada viewer konsol, dan mengendalikan instrumen robotik dengan jari-jarinya. Menjadi satu-satunya perempuan di bidang yang didominasi laki-laki saat itu memberinya perspektif unik.

“Kalau bukan perempuan yang ikut masuk ke ranah ini, siapa lagi yang akan lebih memahami apa yang dibutuhkan pasien perempuan?” ujarnya.

Baginya, kehadiran dokter perempuan sangat krusial karena banyak pasien merasa lebih nyaman menceritakan keluhan reproduksi yang sensitif kepada sesama perempuan.

Memahami Cara Kerja: Robot Sebagai Alat Bantu Presisi

Sita menegaskan bahwa robot tidak memiliki mode otomatis. Setiap gerakan instrumen di dalam tubuh pasien adalah terjemahan langsung dari gerakan tangan dokter. Sistem ini bahkan dilengkapi dengan tremor filter yang menyaring getaran kecil tangan manusia, sehingga tindakan menjadi jauh lebih stabil dan presisi.

Data Operasional Bedah Robotik RSU Bunda Jakarta








Kategori Keterangan
Tahun Implementasi Sejak 2012
Total Tindakan Hampir 1.000 tindakan
Fitur Keamanan Safety check sistem & Tremor filter
Kasus Utama Mioma, Kista, Endometriosis berat

Solusi untuk Kasus Kompleks dan Mempertahankan Rahim

Teknologi robotik menjadi jawaban bagi kasus-kasus ginekologi yang rumit, seperti mioma multipel berukuran besar atau endometriosis berat yang melibatkan banyak organ. Keunggulan utamanya adalah pendekatan minimal invasif: sayatan lebih kecil dan masa pemulihan yang lebih singkat dibandingkan operasi terbuka.

Salah satu manfaat paling dirasakan pasien adalah peluang untuk mempertahankan rahim. Pada kasus mioma besar, teknologi ini membantu dokter melakukan pengangkatan massa dengan sangat presisi tanpa harus mengangkat rahim secara keseluruhan, sebuah hal yang sangat krusial bagi pasien di usia reproduktif.

Kompetensi Tim Adalah Kunci Utama

Direktur Utama PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono, menekankan bahwa kecanggihan alat harus dibarengi dengan kompetensi sumber daya manusia. Setiap dokter di jaringan rumah sakit BMHS wajib melalui pelatihan dan sertifikasi khusus untuk menangani bedah robotik.

Pengalaman selama 14 tahun menjadi pembeda utama bagi RSU Bunda Jakarta. Sita sendiri mengakui bahwa learning curve atau proses belajar untuk menangani kasus kompleks membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Oleh karena itu, pertanyaan calon pasien seharusnya bukan lagi soal keamanan robot, melainkan seberapa berpengalaman tim medis yang mengoperasikannya.

“Robotnya membantu saya, tapi dokter yang mengoperasi,” pungkas Sita.

Dengan pemahaman ini, diharapkan pasien tidak lagi merasa takut terhadap kemajuan teknologi yang justru hadir untuk memberikan hasil medis yang lebih baik dan aman. (Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *