Tuesday, September 22

Menteri Agama resmikan Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga


Ilustrasi(MI/AGUS UTANTORO)

MENTERI Agama Nasaruddin Umar, hari Kamis meresmikan berdirinya Fakultas Kedokteran serta Prodi Pendidikan Profesi Dokter Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dikatakan, adanya Fakultas Kedokteran ini bagi UIN memberikan posisi sebagai the real university, yakni universitas yang bisa mencitra pendidikan Islam. Menurut Menteri pendidikan Islam itu bukan hanya soal agama tetapi seluruh aspek-aspek keilmuan yang lain. 

“Kehadiran fakultas kedokteran ini, yang akan dilahirkan nanti adalah dokter Islami,” katanya.

Menurut Nasaruddin Umar dokter yang Islami ini nantinya pendekatannya bukan hanya fisioterapi fisiologi saja tetapi juga masalah-masalah spiritual. Kadang-kadang, lanutnya sugesti itu bisa menyembuhkan dan UIN akan mampu menghasilkan ahli-ahli sugesti. “Belum tentu fakultas kedokteran di perguruan tinggi lain bisa menggunakan bahasa-bahasa spiritual yang sangat dalam. Kombinasi bahasa spiritual dengan bahasa diharapkan bisa memberikan power yang sangat istimewa buat para pasien,” ujarnya.

Lebih lanjut Nasaruddin Umar menjelaskan hal semacam itu sangat diharapkan, bagaimana pasien bisa disembuhkan bukan hanya fisiknya tetapi juga masalah kejiwaannya. “Saya membayangkan nanti alumni FK UIN memiliki semuanya,” katanya.

Ia berharap keberadaan Fakultas Kedokteran UIN Sunan Kalijaga ini ke depan akan melahirkan citra baru dalam pendidikan Islam di Indonesia.

Menteri Agama membenarkan, kehadiran fakultas kedokteran ini sejalan dengan prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan, salah satu prioritas Presiden Prabowo adalah kesehatan lahir dan batin, fisik dan lainnya.

Hal lainnya adalah terkait dengan stunting atau tengkes. Nasaruddin Umar mengungkapkan kondisi stunting adalah keterbatasan pertumbuhan otak sehingga akan terganggu kecerdasannya, tulang-tulang yang rapuh serta keterbatasan pertumbuhan otot.

Ia menganggap UIN adalah satu episentrum yang bisa menghadirkan, mengelaborasikan, mengintegraskan semua disiplin ilmu.

Sementara Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menegaskan kehadiran Fakultas kedokteran di lingkungan UIN Sunan Kalijaga ini bukan sekadar menambah prodi. Namun merupakan wujud komitmen universitas untuk mengintegrasikan ilmu kedokteran modern dengan nilai-nilai keislaman, dan kemanusiaan.

“Peluncuran Prodi Kedokteran dengan kekhasan preventif–promotif terhadap penyakit muskuloskeletal dan kesehatan lansia  ini menjadi momentum strategis bagi UIN Sunan Kalijaga dalam memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul,” jelasnya. 

Kehadiran Fakultas Kedokteran di lingkungan UIN Sunan Kalijaga merupakan wujud komitmen universitas untuk mengintegrasikan ilmu kedokteran modern dengan nilai-nilai keislaman, dan kemanusiaan. Menurut Rektor Indonesia perlu dokter yang juga memiliki kepakaan sosial. Karena itu pendidikan dokter di UIN Sunan Kalijaga dibangun untuk yang menguasai ilmu kedokteran dan etika serta nilai-nilai Islam.

Kerja keras dan kolaboeasi semua pihak

Selain meresmikan Program Studi Kedokteran dan Pendidikan Profesi Dokter, Menteri Agama membuka Forum Ekonomi Regional Jawa.

Dalam kesempatan tersebut Menteri Agama mengemukakan Sebelumnya, Menteri Agama membuka Forum Ekonomi Regional Jawa Halal Ecosystem 2026 yang diselenggarakan di di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Dalam pidato kuncinya, Menteri Agama mengemukakan sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia berpotensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekosistem halal internasional. Menurut Menteri potensi yang dimaksud mencakup berbagai sektor yang strategis, mulai dari industri makanan dan minuman halal, busana, wisata halal, industri kreatif, keuangan syariah, hingga akselerasi gaya hidup halal berbasis digital. 

Dikatakan, pemerintah RI, terus menunjukkan komitmennya untuk terus mengembangkan melalui berbagai kebijakan yang diambil diantaranya percepatan proses sertifikasi halal, penguatan daya saing industri, pemberdayaan UMKM, hingga program peningkatan literasi ekonomi syariah bagi masyarakat.

Dikatakan, umat Islam diharapkan dapat mengonsumsi berbagai hal yang tidak hanya halal dan toyib tetapi juga mubarakah. “Ketiga dimensi ini adalah kunci bagi setiap individu untuk menghasilkan energi positif yang mampu mendekatkan diri kepada Tuhan,” katanya.

Ia optimistis Indonesia mampu menciptakan peradaban Islam versi nusantara yang dapat menjadi rujukan bagi negara-negara lain. “Sudah waktunya sekarang ini Timur Tengah belajar ke Indonesia,” tegasnya.

Namun tantangannya, katanya adalah kesadaran syariah di Indonesia yang masih perlu ditingkatkan. Ia membandingkan data perilaku syariah antara Indonesia dan Malaysia.

Harus diakui, katanya etos perilaku syariah Indonesia relatif jauh lebih rendah ketimbang Malaysia. Ia menyebutkan, perilaku syariah Malaysia sudah mencapai 67% sedangkan Indonesia masih 7,5%. “Salah satu hal yang nampak, di sini masih banyak yang menggunakan bank konvensional meski perbankan syariah sudah ada,” ujarnya.

Karena itu ia berharap  UIN Yogyakarta menciptakan perubahan drastis. Jika bukan bersumber dari UIN, dari mana lagi? “Saya minta UIN Yogyakarta untuk menjadi pelopor dalam mewujudkan ekosistem halalan thayyiban dan mubarakah ini,” jelasnya. (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *