Wednesday, September 23

Milenial Aceh Diajak Transformasi Alam Peudeueng untuk Masa Depan


(MI/Amir MR)

SEJARAWAN dari Universitas Syiah Kuala (USK), M. Adli Abdullah, mengajak generasi muda Aceh untuk tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. Ia menekankan pentingnya mentransformasikan nilai sejarah Kesultanan Aceh, khususnya simbol Alam Peudeueng, menjadi energi kinetik untuk membangun masa depan yang berdaulat.

“Jangan hanya mengenang kejayaan masa lalu. Jadikan sejarah kesultanan sebagai energi kinetik untuk merancang masa depan Aceh yang berdaulat, adil, dan bermartabat,” tegas Adli dalam forum diskusi bertajuk Alam Peudeueng Sebagai Penjaga Marwah: Mengaktualisasikan Alam Peudeueng di Masa Kini yang berlangsung di Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (2/5/2026).

Diskusi yang diinisiasi oleh komunitas Milennial Indonesia Aceh-Jakarta itu membedah kejayaan masa Kesultanan Aceh dan filosofi Alam Peudeueng (bendera/panji pedang). Menurut Adli, Alam Peudeueng mengajarkan bahwa marwah tidak diwariskan secara otomatis, melainkan suatu kata kerja yang harus diperjuangkan dan dihidupkan sesuai tantangan zaman.

Makna Filosofis Alam Peudeueng

Dosen Senior Hukum Adat USK yang juga Tenaga Ahli Badan Pertanahan Nasional itu menjelaskan bahwa Alam Peudeueng bukan sekadar helaian kain. Simbol tersebut merupakan representasi kedaulatan, legitimasi, dan kehormatan kolektif rakyat Aceh.

“Kata Alam berasal dari bahasa Arab yang bermakna bendera, dan Peudeung dalam bahasa Aceh berarti pedang. Warna merah melambangkan keberanian, sementara warna putih pada bulan sabit, bintang, dan pedang mencerminkan karakter suci rakyat Aceh,” jelas Adli.

“Aceh tidak boleh hanya berdaulat secara sejarah, tetapi harus berdaya secara nyata di era modern.” M. Adli Abdullah

Tiga Pilar Kedaulatan Abad ke-21

Dalam transformasinya ke masa kini, Adli meredefinisi kedaulatan Aceh ke dalam tiga paradigma utama:

  • Kedaulatan Ekonomi: Mencakup kemandirian daerah, penguatan ekosistem UMKM, dan penguasaan strategis atas sumber daya alam lokal.
  • Kedaulatan Budaya: Pelestarian progresif terhadap bahasa, hukum adat, dan nilai fundamental Aceh di tengah arus globalisasi.
  • Kedaulatan Pengetahuan: Penguasaan ekosistem pendidikan unggul yang berakar pada identitas lokal namun memiliki daya saing global.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya tokoh muda Aceh Muhammad Rafsanjani dan anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma. Acara dipandu oleh Ketua Umum Milennial Indonesia Aceh-Jakarta, Fariski Adwari, sebagai moderator.

Melalui momentum ini, milenial Aceh diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Kesultanan sebagai embrio untuk menjawab tantangan zaman dan memastikan marwah Aceh tetap terjaga melalui karya nyata, bukan sekadar narasi sejarah. (I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *