Sunday, October 4

Narsisme di Ruang Belajar


(Dok. Pribadi)

NARSISME dikaitkan dengan rasa berhak, memusatkan perhatian berlebihan pada diri sendiri, ekspektasi muluk, serta kebutuhan untuk selalu menonjolkan diri (Wink: 1991; Rogoza dan Fotfouta: 2019). Dalam pendidikan, gelagat itu perlu diperhatikan serius karena berpotensi mengancam proses belajar. Narsisme dapat muncul pada murid, guru, dan lembaga. Meskipun tidak selalu buruk, kemampuan memahami dan meresponsnya penting untuk menjamin pendidikan yang lebih baik.

 

KASATMATA DAN TERSELUBUNG

Salah satu bentuk yang paling mudah dikenali ialah narsisme kasatmata (overt), yang tampak pada pendidik yang menjadikan kelas sebagai ajang pemujaan diri melalui cerita masa lalu, prestasi, atau kelebihannya demi mengundang kagum anak didik. Praktik lain ialah menempatkan anak didik sebagai properti untuk konten media sosial sebagai pendidik ‘baik’, ‘ramah’, atau ‘ideal’ tanpa mempertimbangkan privasi dan kenyamanan psikologis mereka. Tidak membuka ruang dialog, antikritik, merasa satu-satunya sumber pengetahuan, serta menganggap orang lain inferior juga merupakan cerminan narsistik yang merugikan.

Sementara itu, di kalangan murid, narsisme tampak sebagai percaya diri berlebihan; menganggap murid lain tidak sehebat dirinya, meminta perlakuan khusus, mendominasi diskusi, memotong ucapan orang lain, atau merespons kritik secara arogan dengan mengancam, membalas, atau menghina.

Selain bentuk kasatmata, narsisme bisa terselubung (covert atau introverted), ditandai dengan menempatkan diri sebagai korban, sensitif terhadap kritik, pasif-agresif, dan kurang empati. Guru atau murid bisa tampak diam saat dikritik, tetapi diam-diam tersinggung, stres, atau marah, menganggap kritik sebagai serangan pribadi, lalu mendiamkan, menghindar, menyindir, atau mengeluh atas masukan yang dianggap tidak adil.

Jika pada tingkat individu narsisme tampak pada guru dan murid, pada tingkat yang lebih luas, narsisme sekolah tecermin pada budaya organisasi. Sebagai lembaga, sekolah tidak memiliki gangguan kepribadian. Narsisme di sini dipahami sebagai pola organisasi yang berulang dan berpusat pada prestise, citra, superioritas, atau penghindaran kritik, dengan mengorbankan pembelajaran, keadilan, dan kesejahteraan murid dan guru. Praktik yang sering ditemui: mencitrakan sekolah sebagai ‘elite’, ‘unggul’, dan ‘lebih baik’ daripada sekolah lain; publikasi capaian murid berlebihan tanpa mempromosikan proses dan progres; serta menampilkan keberhasilan murid sebagai kontribusi sekolah semata.

Seperti pada individu, narsisme kelembagaan juga punya bentuk terselubung. Itu tampak dari budaya yang memandang kritik, masukan, dan saran orangtua serta masyarakat sebagai ancaman dan ketidaksetiaan; atau menyembunyikan kesalahan demi mempertahankan citra kompetensi dan kesempurnaan. Lalu bagaimana melawan narsisme di sekolah?

 

PENYANGGA DAN FONDASI

Untuk menjawab pertanyaan itu, penting merujuk pada metafora pendidikan yang dikemukakan Chad Mason dan Karen Brackman dalam Educating Today’s Overindulged Youth: Combat Narcissism by Building Foundations, not Pedestals (2009). Mereka menawarkan analogi tiang penyangga (pedestals) dan fondasi (foundations). Untuk melawan narsisme pada murid, pendidik dan keluarga perlu membangun ‘fondasi’ tanggung jawab, kemandirian, ketahanan, dan kepedulian terhadap sesama, daripada ‘penyangga’ berupa perlindungan, akomodasi, atau pujian berlebihan.

Yang menarik, saran Mason dan Brackman itu bertentangan dengan anggapan umum orangtua. Mereka justru menyarankan mengurangi perhatian dan pujian yang berlebihan. Sekolah dan orangtua perlu menghindari ajaran yang membuat anak merasa superior dan perlu diperlakukan khusus. Ide itu diperkuat penelitian longitudinal Eddie Brummelman dan Constantine Sedikides (2020): penilaian orangtua yang berlebihan, mengatakan anak lebih istimewa dan lebih berhak daripada anak lain, mendorong ciri narsistik pada kemudian hari. Sebaliknya, kehangatan orangtua menumbuhkan harga diri (self-esteem).

Implikasi temuan itu bagi sekolah sangat jelas: cara memaknai pujian harus diubah. Pujian berlebihan dan membandingkan selalu menyampaikan pesan keunggulan. ‘Kamu mengerjakan tugas ini dengan kreatif’ membangun kompetensi; ‘Kamu hebat melebihi semua kawanmu’ membangun identitas rapuh. Apa yang dapat dilakukan sekolah?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, sekolah harus menciptakan budaya penilaian dan umpan balik (feedback) yang realistis dan spesifik. Guru memuji usaha, strategi, kemajuan, kerja sama, dan ketekunan, bukan pujian kosong atas hasil. Umpan balik yang baik berorientasi pada pertumbuhan: murid menyadari kelemahan dan tahu apa yang perlu diperbaiki.

Kedua, sekolah harus mengajarkan tanggung jawab melalui partisipasi bermakna, refleksi, dan upaya perbaikan. Melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan memberi kesempatan belajar sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.

Selain partisipasi, sekolah perlu menetapkan batas yang jelas. Ketiga, aturan yang tegas harus tetap memanusiakan murid sehingga mereka merasa menjadi bagian penting dari sekolah. Saat menghadapi pelanggaran misalnya, pesan yang perlu disampaikan ialah ‘kamu ialah bagian dari sekolah ini, tetapi perilaku (yang dilanggar) tidak dapat diterima’. Membangun logika bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi akan memperkuat kesadaran tentang batas yang jelas antara hak dan kewajiban mereka.

Keempat, sekolah harus mengajarkan keterampilan emosional dan sosial. Murid perlu memahami rasa kecewa, gagal, berbeda pendapat, iri, atau malu. Kemampuan mengelola konflik damai ialah keterampilan dasar yang terus dikembangkan.

Agar upaya itu berkelanjutan, sekolah juga perlu melibatkan orangtua. Kelima, kemitraan harus berfokus pada prinsip dan kesepakatan bersama, bukan pada saling menyalahkan.

Dari semua langkah itu, upaya terbaik untuk melawan narsisme ialah membangun harga diri (self-esteem). Murid mengembangkan kepercayaan diri yang kukuh ketika mereka mengalami rasa aman, mendapat masukan atau penilaian yang jujur, diberi tantangan yang terukur, dan tanggung jawab yang nyata. Mereka tidak perlu dimanjakan dengan pujian yang berlebihan. Mereka perlu belajar dari kegagalan-kegagalan karena mereka berkesempatan untuk belajar, melakukan perbaikan, bekerja sama, dan bermanfaat bagi orang lain. Pesan pentingnya ialah mereka selalu berharga, tetapi memiliki rasa tanggung jawab ialah sesuatu yang harus ada dan perlu terus dijaga.

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *