Friday, September 18

Obat Antivirus untuk Flu tidak Boleh Sembarangan, ini Aturan Penggunaannya


Ilustrasi(magnifik)

FLU sering dianggap sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh sendiri. Namun, pada sebagian orang, infeksi influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia hingga memerlukan perawatan di rumah sakit.

Karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa obat antivirus dapat menjadi pilihan pengobatan bagi pasien tertentu, terutama mereka yang berisiko tinggi mengalami komplikasi.

CDC menegaskan bahwa obat antivirus bukan obat yang dijual bebas. Seluruh obat ini hanya dapat digunakan berdasarkan resep tenaga kesehatan. 

Pengobatan juga bekerja paling baik jika dimulai dalam waktu dua hari sejak gejala flu muncul. Penanganan lebih awal dapat membantu mengurangi keparahan gejala, mempercepat pemulihan sekitar satu hari, sekaligus menurunkan risiko komplikasi seperti pneumonia. 

Bahkan pada pasien yang dirawat di rumah sakit, terapi antivirus yang dimulai lebih lambat masih dapat memberikan manfaat.

Pilihan Obat Antivirus Menurut CDC

CDC merekomendasikan beberapa jenis obat antivirus yang dapat digunakan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan pertimbangan dokter.

Oseltamivir

Oseltamivir tersedia dalam bentuk kapsul maupun cairan. Obat ini menjadi salah satu antivirus yang paling sering digunakan untuk mengobati influenza dan dapat diberikan pada berbagai kelompok usia sesuai indikasi medis.

Zanamivir

Zanamivir diberikan melalui alat inhalasi. Namun, CDC tidak merekomendasikan obat ini bagi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) karena dapat memicu gangguan pernapasan.

Peramivir

Peramivir diberikan melalui infus oleh tenaga kesehatan. Obat ini umumnya digunakan pada kondisi tertentu yang memerlukan penanganan medis di fasilitas kesehatan.

Baloxavir Marboxil

Baloxavir merupakan obat minum dosis tunggal untuk influenza tanpa komplikasi pada kelompok usia tertentu. Namun, CDC menyebut obat ini tidak dianjurkan untuk ibu hamil maupun menyusui karena data keamanan yang masih terbatas.

Pengobatan Antivirus Sesegera Mungkin

Selain jenis obatnya, CDC menekankan bahwa waktu pemberian terapi merupakan faktor penting. Antivirus sebaiknya dimulai sesegera mungkin setelah gejala muncul, idealnya dalam 48 jam pertama.

Meski demikian, pasien dengan penyakit berat atau kelompok berisiko tinggi tetap dapat memperoleh manfaat meskipun pengobatan dimulai lebih lambat.

Tidak Semua Penderita Flu Membutuhkan Antivirus

CDC menjelaskan bahwa sebagian besar orang dengan flu ringan dapat pulih dengan istirahat yang cukup, mencukupi kebutuhan cairan, dan mengurangi aktivitas hingga kondisi membaik.

Sebaliknya, orang yang mengalami gejala berat, dirawat di rumah sakit, atau memiliki risiko tinggi seperti ibu hamil, lansia, anak kecil, serta penderita penyakit kronis dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah terapi antivirus diperlukan. 

Antibiotik juga tidak dapat digunakan untuk mengobati influenza karena penyakit ini disebabkan oleh virus, bukan bakteri.

Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *