Wednesday, September 23

Pawai Hari Jerusalem Nasionalis Israel Teriakkan Slogan Anti-Palestina


Masjid Al-Aqsa.(Al Jazeera)

KELOMPOK nasionalis Israel memadati jalan-jalan sempit di Kota Tua Jerusalem pada Kamis (14/5), meneriakkan slogan-slogan provokatif seperti, “Mati bagi Arab” dan “Semoga desa kalian terbakar”. Aksi ini terjadi dalam pawai tahunan Hari Jerusalem yang memaksa banyak warga Palestina memilih untuk tetap mengunci diri di dalam rumah.

Setiap tahun, puluhan ribu warga Israel–mayoritas remaja dan dewasa muda–melakukan parade untuk merayakan sesuatu yang disebut otoritas Israel sebagai reunifikasi Jerusalem. Perayaan ini menandai penaklukan dan aneksasi Jerusalem Timur oleh Israel dalam Perang Arab-Israel 1967.

Namun, aneksasi Jerusalem Timur, yang dihuni mayoritas penduduk Palestina, tidak diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Ketegangan di Tengah Konflik Regional

Pawai tahun ini berlangsung di bawah bayang-bayang ketegangan perang dengan Iran dan gencatan senjata di Gaza yang terus diwarnai pelanggaran harian. Selama bertahun-tahun, acara ini kerap berujung pada kekerasan, yaitu kelompok ultranasionalis menyasar warga Palestina dengan intimidasi, serangan fisik, dan ujaran rasis.

Laporan koresponden AFP menunjukkan bahwa sejak menjelang siang, sebagian besar pedagang Palestina di Kota Tua menutup toko mereka dan meninggalkan lorong-lorong batu yang biasanya ramai. Hanya segelintir toko yang tetap buka di bawah perlindungan aktivis dari gerakan akar rumput lintas etnis, Standing Together.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan para aktivis didorong dan dikepung oleh kelompok pemuda yang mengenakan kaus putih berslogan Jerusalem. Dalam satu insiden, massa melemparkan kursi plastik ke arah seorang pedagang Palestina sambil meneriakkan makian rasis.

Catatan Lapangan:

Massa melakukan aksi provokatif dengan memukul pintu-pintu besi toko Palestina yang tertutup rapat di bawah pengawasan polisi Israel yang berjaga di seluruh area.

Upaya Solidaritas dan Perdamaian

Di tengah atmosfer yang memanas, upaya perdamaian tetap terlihat. Di tangga Gerbang Damaskus, puluhan aktivis perdamaian Israel berpakaian putih membagikan bunga kepada pejalan kaki sebagai bentuk simpati.

“Penting bagi saya untuk datang guna menunjukkan solidaritas kepada komunitas lokal. Sebagai seorang Yahudi dan Zionis, saya ingin mereka menjadi bagian dari bangsa ini dengan hak yang setara,” ujar Ilan Perez, 52, seorang pekerja industri teknologi dari Raanana.

Namun, Rula Daoud, direktur pendamping Standing Together, mencatat bahwa pawai ini menjadi semakin keras setiap tahun, terutama setelah serangan 7 Oktober. Ia menuduh polisi tidak melakukan intervensi yang cukup untuk meredam kekerasan.

“Ribuan pemukim dan kelompok sayap kanan berkeliaran meneriakkan hal-hal rasis, mencoba merusak properti milik warga Palestina, dan meneror seluruh tempat ini,” tegas Daoud. Selain menyasar warga lokal, peserta pawai juga dilaporkan mengonfrontasi jurnalis, mendorong mereka, dan menghalangi proses peliputan di lokasi kejadian.

Pawai berakhir di Tembok Ratapan, situs suci tempat umat Yahudi diizinkan berdoa, yang merupakan sisa dari Bait Suci Kedua yang dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 Masehi. (I-2)





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *