Wednesday, September 23

Pendekatan Nonbedah Jadi Opsi bagi Pasien Nyeri yang Ingin Hindari Operasi


Talkshow membahas penanganan nyeri dengan metode minimal invasif di acara pembukaan Klinik Utama GP+ Medical & Paincare, Jakarta, turut dihadiri Shahnaz Haque (kanan).(Dok. Klinik Utama GP+ Medical & Paincare)

KELUHAN nyeri kronis kerap menjadi ‘penjara’ fisik yang membatasi produktivitas dan kualitas hidup, terutama pada kelompok usia aktif dan lansia yang ingin tetap bergerak. 

Dalam praktik medis konvensional, sejumlah kasus seperti saraf kejepit, nyeri punggung bawah (low back pain), atau gangguan sendi berujung pada rekomendasi operasi. Namun, perkembangan teknologi kedokteran membuka peluang penanganan nonbedah atau minimal invasif. Metode ini menjadi pilihan bagi pasien yang ingin menghindari tindakan bedah terbuka sekaligus meminimalkan risiko serta masa pemulihan panjang.

Seiring dengan tren tersebut, layanan manajemen nyeri minimal invasif di Indonesia juga kian berkembang. Salah satunya hadir di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, melalui Klinik Utama GP+ Medical & Paincare yang dikelola (managed by) Singapore Paincare. Kemitraan ini menghadirkan sistem diagnosis, protokol terapi, serta standar pelatihan dokter yang sama dengan yang diterapkan di Singapura.

Singapore Paincare dikenal sebagai salah satu pemimpin di bidang manajemen nyeri di Asia. Seluruh protokol medis yang digunakan dikembangkan secara eksklusif oleh Dr. Bernard Lee, MBBS, pendiri sekaligus Group CEO Singapore Paincare. Ia berfokus pada pendekatan minimal invasif dalam penanganan nyeri musculoskeletal dan berperan dalam memperluas model terapi nonbedah di kawasan Asia.

Dalam peluncuran Klinik Utama GP+ Medical & Paincare di Jakarta, Bernard Lee menekankan bahwa manajemen nyeri modern harus berbasis akurasi diagnosis sebelum tindakan dilakukan. 

“Kami hadir bukan hanya untuk menawarkan perawatan, tetapi memberikan kembali kebebasan bergerak bagi pasien tanpa rasa takut akan meja operasi. Melalui metodologi manajemen nyeri tingkat lanjut dari Singapura, kami mengedepankan keamanan dan pemulihan tanpa masa penyembuhan yang panjang,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diawali dengan metode asesmen yang disebut Painostic, yakni sistem evaluasi untuk mengidentifikasi sumber nyeri hingga ke titik terdalam secara presisi. Setelah diagnosis ditegakkan, terapi dilakukan melalui sejumlah prosedur minimal invasif. Prosedur itu antara lain metode Myospan dan Injeksi Coreflex yang ditujukan untuk mengeliminasi ketegangan otot kronis serta membantu memulihkan fungsi saraf yang terganggu. Sementara itu, Injeksi Intra Artikular dan Platelet Rich Plasma (PRP) menjadi bagian dari terapi regeneratif untuk mengatasi peradangan sendi dan mempercepat pemulihan jaringan secara alami.

Direktur Eksekutif dan Pimpinan Dokter Paincare di klinik tersebut, dr. Rudy Susanto, BSBio, MD, menyatakan seluruh tindakan dilakukan oleh dokter profesional yang telah menyelesaikan program fellowship resmi di Singapore Paincare Academy. 

“Dengan membawa standar emas Singapore Paincare, kami menghadirkan harapan baru bahwa hidup bebas nyeri kronis kini bisa dicapai tanpa prosedur bedah invasif,” ujarnya.

Pemilik dan Pimpinan Dewan Direksi Klinik Utama GP+ Medical & Paincare, Prof. dr. James Tangkudung, SportMed, menyambut baik kolaborasi ini dan mendukung penerapan metode minimal invasif sebagai pilihan solusi bagi lansia maupun pasien lain yang mengharapkan kesembuhan tanpa pembedahan.

Dalam peluncuran tersebut, selebritas sekaligus health enthusiast Shahnaz Haque turut membagikan pengalamannya sebagai pasien. 

“Mobilitas adalah aset terbesar saya. Solusi minimal invasif di klinik ini adalah game-changer bagi siapa pun yang ingin tetap aktif di segala usia tanpa batasan rasa nyeri,” ujarnya.

Saat ini, Klinik Utama GP+ Medical & Paincare melayani pasien dengan gejala nyeri sendi atau otot, baik akut maupun kronis. Layanan spesialisasinya mencakup penanganan presisi untuk saraf kejepit, nyeri punggung bagian bawah (low back pain), nyeri lutut (knee pain), nyeri leher & bahu (Neck & Shoulder Pain), serta berbagai gangguan nyeri sendi, otot, dan tulang lainnya. (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *