Wednesday, September 23

Pengamat Optimistis Harga Pertamax Diproyeksikan Turun Bertahap, Ini Alasannya


Antrean panjang kendaraan bermotor mengisis bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertalite di SPBU Kramat, Senen, Jakarta, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300(Usman Iskandar/MI)

DOSEN ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyaki memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax turun secara bertahap dari Rp16.250 per liter pada Juni, menuju kisaran Rp12.100-Rp13.500 per liter pada Desember 2026.

Ia beralasan bahwa penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka seperti Dexlite dan Pertamina Dex.

Adapun besaran harga yang diproyeksikan yakni Pertamx bisa urun ke level Rp15.228 per liter pada Juli, kemudian Rp14.557 per liter pada Agustus, Rp14.112 per liter pada September, Rp13.814 per liter pada Oktober, Rp13.614 per liter pada November, lalu Rp13.479 per liter pada Desember dengan perkiraan  Minyak Mentah Indonesia/ICP berangsur turun menuju level 90,6 dolar AS per barel pada Desember 2026 dan kurs yang berangsur menguat dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 pada Desember 2026.

Yayan menyampaikan dinamika konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memang dinamis. 

Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lalu terkoreksi cepat ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah kerangka damai AS-Iran yang mulanya akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6).

Kemudian, harga minyak mentah Brent naik kembali di atas 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel pada Jumat (19/6), seiring investor mempertimbangkan meningkatnya risiko geopolitik setelah dibatalkannya perundingan yang direncanakan antara Amerika Serikat dan Iran, serta serangan baru Israel di Lebanon.

Harga minyak dunia, sambung dia, turut mempengaruhi harga minyak mentah rata-rata Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang digunakan untuk menentukan harga BBM nonsubsidi. Dalam APBN 2026, asumsi makro mematok ICP berada di level 70 dolar AS per barel.

“Pemerintah perlu menyiapkan simulasi skenario, misalkan ICP 70-90 dolar AS per barel,”ucap dia. (Ant/H-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *